Pelatihan Selam di Wayag Raja Ampat
 

Oleh : Muhammad Erdi Lazuardi

Melatih masyarakat lokal untuk menyelam dan melakukan monitoring mandiri

Conservation International – Indonesia, Raja Ampat Program mengadakan dive training diklat ke-empat di Pos Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Kawe yang berada di P. Wayag pada 1 – 5 November 2009.  Dive training ini ditujukan bagi perwakilan masyarakat di masing-masing KKLD sehingga mereka bisa menjadi bagian dalam tim monitoring terumbu karang lokal.  Tim monitoring lokal ini penting supaya masyarakat sendiri yang ikut aktif dalam pemantauan kondisi terumbu karang mereka, apakah kondisi karangnya membaik, stabil atau semakin rusak.  Saat ini sudah terdapat 20 diver lokal yang bergabung dan secara bertahap dibekali dengan keahlian monitoring terumbu karang secara sederhana.

KKLD Kawe merupakan merupakan kawasan kepuluan di Wayag.  Diberi nama KKLD Kawe oleh masyarakat Kampung Saleo dan Serpele sebagai pemegang adat kepulauan Wayag dengan sebutan nama suku mereka, yaitu Suku Kawe.  Di Raja Ampat terdapat 6 KKLD yang sudah dideklarasikan oleh Pemerintah Kabupaten Raja Ampat pada 2006 yang didorong oleh masyarakat melalui dewan adat Raja Ampat, yaitu KKLD Selat dampier, Kawe, Teluk Mayalibit, Kep. Ayau, Kep. Kofiau dan Misool Timur Selatan.  Adanya KKLD ini diharapkan sumberdaya alam laut Raja Ampat mampu dikelola secara lestari dan mampu menyediakan sumber penghidupan bagi masyarakat Raja Ampat secara berkelanjutan.

Dive training kali ini diikuti oleh 19 peserta dari unsur perwakilan 4 KKLD, Polair Raja Ampat, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Raja Ampat dan Kapal Pendidikan Kalabia.  Instruktur pelatihan ini adalah Andreas Hari Muljadi dari The Nature Conservancy.  Semua peserta dinyatakan lulus dan mendapatkan seritifikat A1 POSSI-CMAS.  Pengalaman beberapa kali melakukan dive training di Raja Ampat dan Manokwari belum pernah menemui kendala dari peserta, karena pada umumnya peserta adalah anak-anak pulau yang sehari-hari sudah menyatu dengan laut.

Secara garis besar ada 3 materi yang diberikan dalam dive training tingkat dasar ini: pengantar akademis penyelaman (PAP) latihan ketrampilan kolam (LKK) dan latihan perairan terbuka (LPT).  PAP meliputi fisika penyelaman; biologi penyelaman; aspek medis penyelaman; pengenalan, penggunaan dan perawatan alat selam; dan pengenalan biota laut khususnya biota-biota yang berbahaya.  LKK dan LPT meliputi ketrampilan skin diving (snorkeling) dan SCUBA diving.  Karena tidak ada kolam renang, maka LKK dan LPT digabungkan dengan lokasi di perairan tidak berarus dan dasar pasir.  Kebetulan lokasi tersebut juga terdapat di depan Pos KKLD Kawe.

BACA LEBIH LANJUT: Pelatihan Masyarakat Adat Kawe

Dalam skin diving peserta diajarkan bagaimana menggunakan peralatan dasar seperti masker, snorkel dan fin.  Ketrampilan dalam skin diving ini meliputi ketrampilan tehnik entry atau memasuki perairan, gaya berenang di permukaan, menyelam bebas menuju suatu objek di bawah air, mask clearing dan snorkel clearing dan lainnya dari pengembangan tehnik yang ada.

Dalam SCUBA diving peserta diajarkan bagaimana memasang peralatan SCUBA, penggunaan dan perawatannya.  Ketrampilan dalam SCUBA diving meliputi tehnik entry, bernafas dengan mulut, mask clearing, regulator finding/recovery, neutral fin pivot, neutral column, fin swimming, exit (keluar dari perairan), kode-kode penyelaman dan lainnya dari pengembangan tehnik yang ada. 
Yang ditekankan dalam dive training ini adalah bagaimana menjadi seorang penyelam yang baik yang memperhatikan lingkungan penyelamannya, karena sesuai motto penyelam sejati, kita tidak mengambil apapun kecuali foto dan tidak meninggalkan apapun kecuali gelembung udara.  Dan kecintaan penyelam terhadap terumbu karang diterapkan dalam kegiatan monitoring terumbu karang dan usaha-usaha konservasi lainnya melalui dunia penyelaman.

Di sela acara, para peserta juga menyempatkan memanjat bukit di Wayag, dimana keindahannya jauh lebih hebat dari Halong Bay, Vietnam,  snorkeling dengan ikan pari manta di Wayag lagoon, fun dive di salah satu site penyelaman di Wayag (Batu delapan) dan acara ditutup dengan malam inagurasi, menari Yospan – tarian khas Papua – dan  api unggun.

*) Muhammad Erdi  Lazuardi, adalah Raja Ampat Research Station Coordinator,  Conservation International – Indonesia , Raja Ampat Program