Dari Tomolol Menyelamatkan Raja Ampat
 

Desember 2003, Conservation International bekerjasama dengan Pemda Kabupaten Kepulauan Raja Ampat, BKSDA Papua II Sorong dan The Nature Conservancy dengan dukungan dari LSM lokal, Lembaga Masyarakat Adat dan pihak swasta melaksanakan lokakarya multi pihak bertajuk “Pengembangan Startegi Konservasi di Raja Ampat”. Kegiatan ini diadakan di Desa Tomolol, Misool Tenggara, Papua, tarikh 11-13 Desember 2003.

Lokakarya ini bertujuan memper¬temukan semua pelaku konservasi guna berembuk saling berbagi informasi mengenai kegiatan yang sudah dilakukan dan rencana kegiatan konservasi apa yang akan dilakukan di Raja Ampat. Selain itu dari lokakarnya ini disusun pula agenda strategis mengenai kegiatan konservasi di wilayah ini berdasarkan potensi keanekaragaman hayati, ancaman-ancaman dan kebu¬tuhan pengembangan sosial ekonomi di kawasan. Berdasarkan agenda tersebut peserta lokakarnya menetapkan daftar prioritas kerja, mendiskusikan rencana-rencana pembangunan yang dirancang oleh pemerintah di kawasan Raja Ampat.

Maksud dari semuanya itu adalah guna menjamin rencana pembangunan di kawasan tersebut agar mempertimbangkan aspek pembangunan berkelanjutan dan berwawasan konservasi. Selain itu yang diharapkan dari lokakarnya ini adalah sebuah konsensus untuk memperoleh dukungan “pelaku kunci” guna menyepakati dan menyusun dokumen strategi konservasi di Kepulauan Raja Ampat.

Lokakarya dihadiri oleh 112 peserta dari 68 lembaga yang berbeda. Peserta lokal  terdiri dari kepala-kepala kampung, camat, tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh perempuan dan jajaran aparatur pemerintah Pemda Kabupaten Raja Ampat.  Peserta lainnya adalah berasal dari Ditjen Perlindungan Kawasan Konservasi PHKA, Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi, Taman Nasional Laut Cenderawasih dan tentunya BKSDA Papua II Sorong. 

Selain itu kalangan LSM lokal juga hadir terutama yang bekerja atau merencanakan bekerja di Raja Ampat seperti: Yayasan Ecopapua Alliance, Yayasan Amne Nimo, Yayasan Nanimi Wabilisu, Yayasan Pengkajian Adat dan Lingkungan Vogelkop, Yayasan Papua Bird Club serta Yayasan Konservasi dan Pembangunan Raja Ampat. 

Dalam tiga hari lokakarnya tersebut, dihasilkan sebuah deklarasi: yang disebut Deklarasi Tomolol (lihat: Deklarasi Tomolol). Deklarasi ini intinya adalah sebuah kesepakatan bersama untuk menjaga dan melestarikan kawasan Raja Ampat untuk kesejahteraan masyarakat.

Raja Ampat memiliki luas daratan dan lautan 43.000 km2. Kepulauan ini belum dihuni banyak penduduk. Para ilmuwan terestrial sejak tahun 1861 pernah mengadakan survei di kawasan ini dan melaporkan pencatatan 54 spesies mamalia, 41 spesies amphibia dan reptilia, serta 171 spesies burung dan 52 spesies ikan air tawar.  Setelah itu barulah pada Maret 2001, tim Conservation International melalui kegiatan Marine Rapid Assassement Program (RAP) dan menyimpulkan bahwa lebih dari 50% kekayaan spesies karang dan ikan karang dunia terdapat di kawasan ini.

Akan tetapi, kita tidak boleh bangga dulu, sebab ancaman terhadap sumber daya darat dan laut juga sudah menunggu di depan. Eksploitasi kayu, penggunaan bom dan potassium dalam penangkapan ikan serta pembangunan  yang tidak tertata akan menjadi ancaman yang serius bagi kekayaan di Kepulaua Raja Ampat itu.    Muhammad Farid-Raja Ampat Field Coordinator,  CI Papua Program

DEKLARASI TOMOLOL

Kami, peserta Lokakarya Multi-Pihak “Pengembangan Strategi Konservasi di Kepulauan Raja Ampat,” dengan ini menyatakan:

  1. Kepulauan Raja Ampat mengandung keanekaragaman hayati laut yang tinggi dan ekosistem yang khas merupakan modal utama pembangunan yang harus dilestarikan untuk kesejahteraan masyarakat.    
  2. Hak-hak dasar dan hukum adat masyarakat setempat harus diakui dalam proses perencanaan dan pengelolaan sumberdaya alam secara berkesinambungan.
  3. Pemanfaatan sumberdaya alam harus diatur berdasarkan sebuah rencana pengelolaan terpadu yang disepakati berbagai pihak dengan didasarkan pada prinsip-prinsip ekologi dan nilai-nilai sosial-budaya masyarakat setempat, termasuk di dalamnya penetapan kawasan dan spesies yang memerlukan perlakuan khusus.
  4. Kabupaten Kepulauan Raja Ampat adalah Kabupaten Bahari.