Menyambut Kelahiran Owa Jawa Kedua di Java Gibbon Center (JGC)
 
Sukabumi, 15 Juni 2013 - Pusat rehabilitasi owa jawa atau Javan Gibbon Center (JGC) di Lido Sukabumi menyambut kelahiran bayi owa jawa kedua pada hari Jumat, 7 Juni 2013. Bayi jantan itu merupakan bayi kedua yang dilahirkan dari induk betina owa jawa yang diberi nama Bombom, dan pasangannya yang diberi nama Jowo. Sebelumnya pasangan owa jawa yang telah dirawat selama lima tahun di JGC tersebut juga telah melahirkan bayi owa jawa betina yang saat ini berumur tiga tahun. Bombom dan Jowo merupakan pasangan induk yang paling produktif di antara delapan pasang owa jawa yang berada di JGC. Berbeda dengan satwa primata umumnya, owa jawa hidup berpasangan dalam sistem monogami, sehingga mencari pasangan yang tepat untuk setiap owa jawa menjadi tantangan tersendiri di pusat rehabilitasi itu. Namun lain halnya dengan Bombom dan Jowo, mereka tidak melalui uji coba pemasangan karena mereka langsung menemukan kecocokan saat dipasangkan.
 
Sejak dibangun pada 2003, JGC telah menerima dan merawat 30 owa jawa yang sebelumnya dipelihara masyarakat. Meskipun keberadaan owa jawa dilindungi Undang-Undang, masih ada sebagian masyarakat yang menjadikannya sebagai satwa peliharaan. Padahal sebagai primata monogami yang hidup berkeluarga, mengambil satu owa jawa berarti mengorbankan paling tidak dua owa jawa lainnya. Pemburu acap kali harus membunuh induk owa jawa untuk mengambil anak yang masih diasuhnya. Selain perburuan, owa jawa juga menghadapi resiko kepunahan yang datang dari kepesatan pertumbuhan penduduk dan pembangunan di Pulau Jawa.
 
Program Manager Gedepahala dari Conservation International Indonesia Anton Ario menyatakan bahwa di JGC setiap owa yang datang dirawat dengan sebaik-baiknya dengan harapan suatu saat mereka bisa dikembalikan ke hutan tempat hidupnya dalam keadaan sehat dan sudah berpasangan. “Bombom dan Jowo dengan kedua anak mereka merupakan hasil dedikasi bertahun-tahun untuk memberikan harapan hidup bagi owa jawa. Dedikasi itu didasarkan kepada keyakinan bahwa owa jawa adalah bagian vital dari sistem pendukung kehidupan kita. Hewan primata ini dapat membantu penyebaran biji bagi hutan. Pekerjaan rumah kita selanjutnya adalah menyediakan hutan yang aman bagi mereka”, ujarnya. 
 
Sebagai satwa yang hanya ditemukan di pulau ini, owa jawa tidak mempunyai tempat hidup lain saat hutan tropis di Jawa dibarat untuk memberi ruang bagi manusia berikut kegiatan ekonomi dan sosialnya. Tidak mengherankan jika owa jawa menjadi salah satu primata paling langka di Indonesia dan dunia. Saat ini populasinya diperkirakan tidak melebihi sekitar 4000 individu dengan resiko kepunahan yang semakin meningkat seiring semakin berkurangnya hutan di Jawa. Melestarikan primata ini bukan perkara mudah. Oleh karena itu, diperlukan komitmen yang kuat dari pemerintah dan dukungan semua pihak agar owa jawa mampu bertahan hidup di tengah tekanan kerusakan hutan dan lingkungan.
 
Untuk keterangan lebih lanjut, silakan hubungi:
1.     Ir. Herry Subagiadi, MSc , Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jl. Raya Cibodas PO Box 3 Sdl Cipanas Cianjur Jawa Barat, Phone/Fax (0251) 512776/519415, Email:  herry.subagiadi@gmail.com       
2.     Anton Ario, Javan Gibbon Center, Jalan Raya Bogor-Sukabumi KM.21 Cigombong Lido Bogor 16740,  Phone/fax (0251) 8224963, Email: aario@conservation.org
Catatan untuk Redaksi
 
Owa Jawa merupakan satu-satunya jenis primata tidak berekor dari keluarga owa (Famili Hylobatidae) yang ditemukan di Pulau Jawa (endemik).  Kerabat owa lainnya hidup di Sumatera (2 jenis), Mentawai (1 jenis), dan Kalimantan (2 jenis).  Saat ini owa jawa terancam punah dan menurut badan dunia IUCN, satwa ini berstatus terancam punah (Endangered). Hutan hujan tropis pulau Jawa yang menjadi tempat hidupnya semakin berkurang drastis di bawah tekanan pembangunan dan pertumbuhan populasi manusia yang semakin meningkat. Selain itu, tingkat perburuan satwa ini juga tergolong tinggi, karena owa jawa dikenal sebagai salah satu satwa yang digemari oleh masyarakat sebagai satwa peliharaan, sehingga turut meningkatkan resiko kepunahannya. 
 
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) - mempunyai peranan yang penting dalam sejarah konservasi di Indonesia. Ditetapkan sebagai Taman Nasional pada tahun 1980. Saat ini, dengan luas 22.815 hektar, kawasan Taman Nasional ini merupakan ekosistem hutan hujan tropis pegunungan, hanya berjarak 2 jam (100 km) dari Jakarta. Disamping keunikan tumbuhannya, kawasan TNGGP juga merupakan habitat dari berbagai jenis satwa liar, seperti kepik raksasa, sejenis kumbang, lebih dari 100 jenis mamalia seperti Macan Tutul Jawa, Kijang, Pelanduk, Anjing hutan, Sigung, dan lainnya serta sekitar 250 jenis burung termasuk Elang Jawa dan berbagai jenis élang lainnya. Kawasan ini juga merupakan habitat bagi Owa Jawa, Surili, Kukang dan Lutung yang populasinya semakin mendekati kepunahan. Selain potensi flora dan fauna, potensi hidrologinya sangat tinggi karena merupakan hulu dari 3 DAS besar (Ciliwung, Citarum, Cimandiri) dengan 60 sungainya, sebagai pembangkit 4 PLTA (Saguling, Cirata, Jatiluhur dan Cimandiri). Serta potensi bentang alam berupa  keindahan ekosistem hutan hujan tropis Indonesia. Info lebih lanjut, silakan kunjungi www.gedepangrango.org
 
Javan Gibbon Center (JGC) – JGC merupakan satu-satunya pusat rehabilitasi owa jawa di dunia. JGC dikelola secara bersama oleh Yayasan Owa Jawa, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Universitas Indonesia, dan Conservation International-Indonesia. Sejak dibangun, JGC yang berlokasi di Bodogol TNGGP, telah menampung 30 owa jawa yang berasal baik dari sitaan Dephut maupun yang diserahkan langsung dari masyarakat. Setelah melewati proses rehabilitasi kesehatan dan tingkah laku yang cukup panjang, owa jawa itu diharapkan dapat dikembalikan ke habitat alaminya dan meneruskan kehidupan mereka dengan aman dan lestari.Lebih lanjut tentang JGC, silakan klik: http://jgcowajawa.blogspot.com
 
Conservation International (CI)CI menerapkan inovasi-inovasi ilmiah, ekonomi, kebijakan dan dengan partisipasi masyarakat untuk melindungi wilayah Bumi yang terkaya dengan keragaman tumbuhan dan satwa serta mendemonstrasikan bahwa umat manusia dapat hidup secara harmonis dengan alam. Didirikan tahun 1987, CI bekerja lebih di 40 negara di empat benua untuk membantu masyarakat dalam menemukan alternatif ekonomi tanpa merusak lingkungan alamnya. Lebih lanjut tentang Conservation International, silakan klik: www.conservation.org dan pada www.conservation.or.id.
 
Yayasan Owa Jawa - berdiri 7 Maret  2001, mempunyai misi untuk membantu pemerintah Republik Indonesia dalam melestarikan owa jawa (Hillobates moloch) dan habitatnya melalui upaya penyelamatan, rehabilitasi dan reintroduksi.