KOPI ACEH SELAMATKAN LINGKUNGAN
Program Kopi Konservasi mendapatkan sambutan positif pemerintah dan masyarakat petani kopi

Oleh  Amie Fenia Arimbi (Kantor Berita Antara)

Suatu sore di Banda Aceh, empat orang laki-laki paruh baya terlihat asyik berbincang-bincang di sudut ruangan kedai kopi, sementara satu orang lagi yang duduk di meja yang sama terlihat menyeruput secangkir kopi hitam. Di depan mereka terhidang piring-piring kecil berisi kue-kue tradisional seperti sarikaya, timpan dan onde-onde.

Begitulah pemandangan yang biasa kita saksikan jika berkunjung ke negeri serambi Mekkah, Aceh. Masyarakat di sini memang terkenal dengan kebiasaan "ngopi"nya. Jauh sebelum kedai kopi di kota-kota besar menjamur, kedai kopi tradisional di Aceh sudah melayani masyarakat lokal setiap harinya.

Beruntung konsumsi kopi yang sangat tinggi tersebut didukung oleh perkebunan kopi lokal yang luasnya berhektar-hektare, siap melayani kebutuhan masyarakat baik di dalam wilayah Aceh sendiri hingga permintaan dari luar negeri.

Namun sayangnya, dengan perkebunan berhektar-hektare itu, ada kekhawatiran bahwa perambahan hutan akan makin marak seiring dengan keinginan petani mengekspansi ladang kopi yang dimilikinya karena unsur hara di ladang kopi sudah tidak mendukung produksi kopi yang banyak lagi.

Hal tersebut tentunya tidak sesuai dengan prinsip konservasi dan penyelamatan lingkungan yang saat ini tengah menjadi fokus negara-negara di dunia termasuk Indonesia.

Menanggapi kekhawatiran inilah LSM Conservation International (CI) Indonesia sejak tiga tahun lalu mengembangkan program "kopi konservasi" di Takengon, kabupaten Aceh Tengah, yang merupakan salah satu wilayah pengekspor kopi jenis arabika terbesar di Asia bersama dengan kabupaten Bener Meriah dengan jumlah total estimasi produksi sebesar 65 juta ton per tahun.

Istilah Kopi Konservasi merujuk kepada sistem yang memungkinkan petani kopi untuk tidak hanya menghasilkan produk berkualitas tetapi juga ikut dalam upaya menjaga lingkungan, dalam hal ini hutan.

"Sejak 2009 CI bekerja sama dengan pemerintah lokal menyediakan pelatihan bagi para petani kopi setempat untuk meningkatkan kapasitas mereka. Kami menyelenggarakan pelatihan mengenai cara pemupukan memakai pupupk alam, teknik memotong dahan kopi untuk menjamin produksi buah yang bagus," kata Manajer Bidang Komunikasi CI Indonesia Fachruddin Mangunjaya.

Mengapa memilih Takengon? Terletak di wilayah dataran tinggi Gayo yang berada di ketinggian 1.200 di atas permukaan laut, perkebunan kopi di Takengon maju pesat dan terkenal menghasilkan kopi dengan cita rasa kompleks dan kekentalan yang kuat.

Kopi Gayo jenis Arabika dianggap sangat istimewa dan dikategorikan sebagai kopi spesial dimana menurut hasil uji citarasa (cupping test) yang dikenalkan oleh Erna Knutsen sejak tahun 1974, kopi arabika gayo memperoleh nilai antara 86-90.

"Dengan potensi besar tersebut, terdapat pula risiko besar deforestasi (perusakan hutan) akibat pembukaan lahan yang dilakukan petani. Untuk itu kami sejak 2009 mendekati petani lokal mencoba meyakinkan mereka mengenai manfaat program kopi konservasi. Dengan perawatan dan pemupukan yang baik, kesuburan tanah di perkebunan akan terjaga lebih lama dan petani tidak perlu lagi membuka lahan baru," katanya.

Pupuk alam yang dipakai dalam program kopi konservasi adalah campura bahan alami seperti kulit kopi, kotoran ternak dan kulit buah-buahan yang kesemuanya dicampur dan dijadikan pupuk untuk pohon kopi. Berdasarkan uji coba selama tiga tahun belakangan, diketahui produksi kopi petani di Aceh Tengah menjadi lebih berkualitas dan diharapkan unsur hara yang mendukung kesuburan pohon kopi di ladang mereka bertahan lebih lama.

Sementara itu koordinator program CI wilayah Aceh, Saodah Lubis, mengatakan, selain membantu petani mengolah lahan perkebunan mereka dengan baik, CI juga mengajak petani untuk menambah nilai perkebunan kopi mereka dengan menanam jenis tanaman lain yang ditanam di sekitar pohon kopi.

"Pohon kopi pada dasarnya tidak boleh terkena sinar matahari secara langsung agar pertumbuhannya maksimal. Selama ini petani biasa menanam jenis pohon pelindung seperti lamtoro yang berfungsi sebagai pelindung saja. Namun kami mulai memperkenalkan kepada petani untuk menanam pohon sengon dan mahoni karena selain bisa melindungi tanaman kopi dari sinar matahari, harga jualnya di pasaran juga tinggi," kata Saodah.

Saodah mengatakan, selain mahoni dan sengon, di sekitar pohon kopi juga bisa ditanam tanaman seperti cabe rawit, cabe merah dan jeruk. Dengan menanam tanaman sampingan, katanya, petani tidak harus mengandalkan hasil perkebunan kopi saja yang biasanya dipanen hanya dua kali dalam setahun.

"Dengan sistem kebun kopi yang juga ditanamai tanaman sampingan, petani secara tidak langsung juga ikut mendukung program konservasi sekaligus membantu mengatasi dampak perubahan lingkungan," tambahnya.

Manfaat sistem kopi konservasi sudah banyak dirasakan petani kopi di Takengon. Hasbullah, petani kopi asal desa Bebesen mengatakan sistem pemupukan menggunakan bahan alami membuat pohon kopinya tumbuh subur dan menghasilkan biji kopi berkualitas tinggi. "Saya juga tidak perlu membeli pupuk kimia lagi ke pasar karena semua bahan baku pupuk alami bisa saya dapatkan di sekitar rumah. Dengan pupuk organik, ongkos produksi juga jadi terkurangi," katanya.

Sementara itu Primanis, petani kopi asal desa Pegasing, mengatakan sebelum mengikuti program CI, petani kopi di daerahnya biasa mengolah kebun kopi dengan cara tradisional. Namun setelah mendapat pegetahuan mengenai teknik mengolah pupuk organik dan memetik kopi yang baik dirinya mengakui panen biji kopi nya menjadi lebih berkualitas dan tentunya lebih laku di pasaran.

 Dukungan Pemda 
Sementara itu Gubernur Aceh Irwandi Yusuf baru-baru ini menyatakan dukungannya terhadap upaya konservasi melalui perkebunan kopi yang dilakukan di kabupaten Aceh Tengah.

Menurutnya program tersebut sangat relevan mengingat kabupaten Aceh Tengah bersama dengan kabupaten Bener Meriah merupakan salah satu daerah produsen terbesar kopi jenis arabika di Indonesia dengan luas lahan mencapai 83.000 hektar.

"Jika menyebut kopi arabika, orang pasti akan teringat dengan kopi gayo asal aceh tengah. Kopi ini sangat digemari di Amerika dan Eropa. Selain bangga dengan prestasi ini, kita juga harus terus mengembangkan produk kopi ini dengan mempertimbangkan prinsip-pinsip konservasi," katanya.

Dia menyatakan program kopi konservasi sangat mendukung program pemerintah untuk mengurangi emisi karbon demi mengatasi dampak negatif perubahan iklim.

"Berdasarkan penelitian, pohom kopi mampu menyerap 8,07 ton karbon per hektare per tahun. Jumalh ini lebih tinggi dibanding tanaman lain yang rata-rata menyerap 1,5-3,5 ton karbon per hektar per tahun. Dari pengembangan perkebunan kopi, selain mendapatkan keuntungan finansial, juga membantu melestarikan lingkungan dan mengurangi racun karbon dari udara," katanya.

Ketua Forum Kopi Aceh Mustafa Ali juga menyatakan dukungannya terhadap sistem kopi konservasi.

Dia mengatakan selain menguntungkan secara finansial bagi petani, program kopi konservasi juga mengajak petani untuk secara tidak langsung melestarikan lingkungan.