CI: Insentif ekonomi dapat mengurangi emisi deforestasi di Indonesia dan menghasilkan pendapatan triliunan rupiah
 
Sistem insentif pembayaran karbon dapat menghasilkan 22-26% penurunan emisi gas rumah kaca akibat deforestasi secara nasional dan pendapatan bersih sebesar Rp 3 triliun hingga 9.1 triliun per tahun

Jakarta - Indonesia memiliki potensi untuk menurunkan emisi gas rumah kaca akibat deforestasi, dan sekaligus menghasilkan pendapatan besar bagi pemerintah nasional dan daerah, jika kebijakan Penurunan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (REDD+) dikembangkan dengan insentif ekonomi, demikian kata para ilmuwan dalam makalah baru yang diterbitkan di jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences.

Kesimpulan tersebut diambil dari sebuah model ekonomi terobosan yang dibangun oleh para ilmuwan yang mengamati deforestasi di Indonesia sejak tahun 2000 hingga 2005. Para ilmuwan, memasukkan variasi biaya dan manfaat konversi lahan untuk pertanian dalam model ini. Mereka kemudian memetakan dan memperkirakan dampak terhadap penurunan emisi jika pemerintah menerapkan kebijakan ekonomi alternatif, seperti cap-and-trade, kebijakan insentif ekonomi sukarela yang sederhana dan kebijakan struktur insentif ekonomi yang lebih komprehensif.

Penelitian yang berjudul: "Penataan insentif ekonomi untuk menurunkan emisi dari deforestasi di Indonesia" dipimpin oleh para ilmuwan Conservation International dan Environmental Defense Fund, dengan penulis pendamping dari Universitas Padjadjaran dan World Resources Institute.

Penelitian ini menunjukkan alasan yang kuat bagi Pemerintah Indonesia untuk segera menerapkan kebijakan insentif ekonomi yang komprehensif di tingkat nasional untuk menurunkan emisi deforestasi pada skala yang luas sehingga Indonesia dapat secara maksimum memetik keuntungan finansial dari program REDD+.

"Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan informasi kepada Pemerintah Indonesia akan keuntungan yang bisa didapatkan di masa depan dari masalah perubahan iklim", kata Dr. Jonah Busch, penulis utama dan climate and forest economist Conservation International. "Dengan membandingkan sejarah kondisi ekonomi dengan laju deforestasi, kami memperkirakan keuntungan finansial di masa depan yang bisa didapatkan dari berbagai alternatif kebijakan untuk memperlambat deforestasi di Indonesia."

Dr. Ruben Lubowski, penulis pendamping dan chief natural resources economist, program international climate, Environmental Defense Fund, menambahkan, "Ini untuk pertama kalinya potensi penurunan emisi dari deforestasi di Indonesia diestimasi dengan menggunakan data historis deforestasi yang dihubungkan dengan berbagai faktor ekonomi. Analisis kami menunjukkan bahwa cara kebijakan REDD+ dirancang, akan menghasilkan perbedaan besar dalam pencapaian target penurunan emisi baik dalam skala penurunannya maupun efektivitasnya jika dihubungkan dengan biaya yang dikeluarkan"

Skenario satu dari penelitian ini, menghitung hasil yang mungkin di dapat dari program cap-and-trade atau program subsidi dengan asumsi harga pembayaran karbon internasional di tingkat $10/ton. Hasil perhitungan menunjukkan potensi keuntungan yang didapat Indonesia selama periode 2000-2005 adalah:

  •  Penurunan emisi dari deforestasi secara nasional sebesar 26% di bawah angka referensi
  •  211 juta metrik ton karbon dioksida dari emisi deforestasi bisa dihindari setiap tahunnya
  • Pendapatan bersih tahunan sebesar Rp9.1 triliun per tahun

Skenario kedua, menunjukkan bahwa program jasa pembayaran ekosistem (payment- for-ecosystem service) akan kurang efektif dalam mencegah deforestasi di dalam negeri. Perhitungan menunjukkan angka yang relatif kurang signifikan:

  • Penurunan emisi dari deforestasi secara nasional hanya sebesar 8% di bawah angka referensi
  • 62 juta metrik ton karbon dioksida dari emisi deforestasi bisa dihindari setiap tahunnya
  • Indonesia harus membayar biaya Rp56.7 triliun per tahun

Skenario ketiga, adalah skenario yang menawarkan pilihan yang lebih menarik secara politis bagi pemerintah Indonesia. Pendekatan ini memerlukan kombinasi beberapa kebijakan dengan struktur insentif ekonomi yang menarik, seperti: kombinasi pembagian pendapatan bersama dan pembagian tanggung jawab antara pemerintah pusat dan daerah; penetapan angka patokan antara insentif ekonomi dengan estimasi tingkat deforestasi di masa depan dalam skenario "bisnis as usual", dan penetapan sistem pembayaran untuk penurunan emisi di tingkat kabupaten atau provinsi. Kombinasi kebijakan ini dapat menghasilkan:

  • Penurunan emisi dari deforestasi secara nasional hanya sebesar 22% di bawah angka referensi
  • 175 juta metrik ton karbon dioksida dari emisi deforestasi bisa dihindari setiap tahunnya
  • Pendapatan bersih tahunan sebesar Rp 3 triliun.

"Studi kami menunjukkan bahwa pilihan kebijakan REDD+ oleh Pemerintah Indonesia akan sangat mempengaruhi tingkat dan efektivitas penurunan gas rumah kaca, serta distribusi biaya dan manfaatnya di dalam negeri," kata Busch. "Program jasa pembayaran ekosistem jika dibandingkan dengan program cap-and-trade, akan menghasilkan perbedaan besar dalam penurunan emisi nasional. Yaitu masing-masing pada angka penurunan emisi  8% dengan biaya Rp56.7 triliun yang harus dibayar pemerintah per tahun dan penurunan emisi  26% dengan pendapatan Rp9.1 triliun per tahun. Sebuah program insentif ekonomi yang terstruktur dengan baik akan dapat membawa penurunan deforestasi sebanyak 22% dengan potensi pendapatan bersih Rp3 triliun per tahun "

"Indonesia memiliki kesempatan besar untuk mempengaruhi Strategi Nasional REDD+ dengan menggunakan analisis ilmiah dari jenis kebijakan dan insentif ekonomi yang akan memberikan keuntungan ekonomi tertinggi, dan penurunan besar dalam emisi karbon dioksida," kata Fred Boltz, Senior Vice President dan Climate Change Lead Conservation International, yang juga menjadi penulis pendamping. "Sebagai aktor penting dalam REDD+, Indonesia telah membuat komitmen signifikan dalam penurunan emisi. Kami berharap bahwa studi ini akan membantu Pemerintah Indonesia untuk mengadopsi kebijakan yang dapat memberikan manfaat terbesar bagi masyarakat, keanekaragaman hayati dan iklim global"

Dalam mengembangkan model ilmiah ini,  para ilmuwan menggunakan OSIRIS-Indonesia, sebuah program untuk menghitung dampak insentif REDD +sebagai alat untuk membantu pengambilan keputusan dalam memperkirakan dan memetakan manfaat iklim, hutan dan pendapatan nasional.

Penelitian ini difasilitasi dan didukung oleh Gordon dan Betty Moore Foundation dan Norwegian Agency for Development Cooperation.

###
Untuk informasi lanjut silahkan hubungi:
Laksmi Prasvita, Communication & Corporate Engagement Manager, Conservation International-Indonesia
Lprasvita@conservation.org  / +6281806472170

Fachruddin Mangunjaya, Publication Coordinator, Conservation International-Indonesia
fmangunjaya@conservation.org  / +62 8129733393

Link ke makalah : 
Structuring economic incentives to reduce emissions from deforestation within Indonesia

Conservation International (CI) – Berlandaskan pada ilmu pengetahuan, kemitraan dan pengalaman, CI memberdayakan masyarakat untuk menjaga alam, keanekaragaman hayati dan meningkatkan kesejahteraan manusia. Didirikan pada 1987, CI bermarkas besar di  Washington DC , mempekerjakan 900 orang yang bekerja di 30 negara di empat benua, dan lebih dari  1,000 partner di seluruh dunia.  Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.conservation.org , atau Facebook dan Twitter.

Environmental Defense Fund (EDF) - (edf.org), sebuah organisasi nirlaba terkemuka, menciptakan solusi transformasional terhadap masalah lingkungan yang serius. EDF menghubungkan ilmu pengetahuan, ekonomi,