Memberi Harga atas Jasa Hidrologis Hutan
Artikel air jasa hidrologis hutan-hutan
Aliran air yang mengalir dari ekosistem hutan berpengaruh terhadap kegiatan konsumsi dan ekonomi, walaupun banyak pihak pengguna air tidak menyadari atau mempertimbangkannya

Oleh : Dr.Hikmat Ramdan

Jasa hidrologis hutan berupa sumberdaya air merupakan salah satu jasa lingkungan terpenting yang dihasilkan hutan. Aliran air yang keluar dari areal hutan digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan, misalnya air minum, sanitasi lingkungan, pertanian, industri, ekosistem dan sebagainya. Johnson, et.al (2001) menyatakan bahwa mayoritas penduduk dunia berada di hilir daerah aliran sungai (DAS) berhutan, sehingga aliran air yang dimanfaatkan oleh masyarakat umumnya berasal dari hutan yang berada di DAS bagian hulu. Oleh karena itu untuk menjamin ketersediaan air dalam jumlah dan kualitas yang memadai, maka upaya konservasi ekosistem hutan harus dilakukan.

Aliran air yang mengalir dari ekosistem hutan berpengaruh terhadap kegiatan konsumsi dan ekonomi, walaupun banyak pihak pengguna air tidak menyadari atau mempertimbangkannya. Misalnya di dalam analisis usaha tani sering tidak memasukan sumberdaya air sebagai bagian dari input produksi tani, padahal tanpa pasokan air yang memadai tidak mungkin panen terjadi. Kondisi yang hampir sama terjadi di dalam kegiatan industri dan ekonomi lainnya dimana air dinilai sangat rendah (mendekati nol) karena dianggap sebagai barang publik dengan akses terbuka (open access).

Namun dengan banyaknya perubahan lahan hutan menjadi non hutan menyebabkan

penurunan pasokan air dibandingkan dengan konsumsi air yang terus meningkat telah menjadikan air makin terbatas (langka) dan bernilai ekonomi yang diperebutkan. Ismail Serageldin mantan Wakil Presiden Bank Dunia pada tahun1995 menyatakan bahwa "many of the wars this century were about oil, but those of the next century will be over water."

Jadi jelaslah dengan makin pentingnya sumberdaya air, maka semestinya makin menyadarkan para pengguna air tentang pentingnya kelestarian ekosistem hutan sebagai processing area/ catchment yang menghasilkan air sebagai jasa hidrologisnya. Oleh karena itu upaya untuk mengapresiasi jasa hidrologis hutan harus dikembangkan sebagai bagian dari strategi konservasi hutan.

Besarnya nilai manfaat hidrologis hutan sampai kini belum banyak diapresiasi oleh publik secara baik, bahkan kegiatan konservasi dianggap sebagai cost center.

Darusman dan Widada (2004) menyebutkan bahwa terdapat lima prinsip yang menegaskan sinergisitas antara kegiatan konservasi dengan pembangunan ekonomi, yaitu: pertama, konservasi merupakan landasan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, tanpa adanya jaminan ketersediaan sumberdaya alam hayati, maka pembangunan ekonomi akan terhenti; kedua, ekonomi merupakan landasan pembangunan konservasi yang berkelanjutan, tanpa adanya manfaat ekonomi bagi masyarakat secara berkelanjutan, dapat dipastikan program konservasi akan terhenti karena masyarakat tidak peduli; ketiga, kegiatan korservasi dan ekonomi, keduanya bertujuan meningkatkan mutu kehidupan dan kesejahteraan masyarakat; keempat, dengan pengetahuan konservasi, maka manusia akan lebih mampu memahami kompleksitas ekosistem alami sehingga menyadari, bahwa sumberdaya alam perlu dikelola secara hati-hati dan dengan hati nurani agar tetap lestari meskipun sumberdaya alam tersebut dimanfaatkan secara terus menerus; serta kelima, dengan pengetahuan ekonomi, manusia akan mampu menentukan pilihan-pilihan aktifitas ekonomi yang paling rasional dalam menggunakan sumberdaya alam untuk memenuhi kebutuhan hidup dan meningkatkan kesejahteraan secara berkelanjutan. Berdasarkan kelima prinsip tersebut, konservasi ekosistem hutan memiliki peranan penting dalam mendukung pembangunan ekonomi masyarakat sekaligus mempertahankan sistem penyangga kehidupan.

Besarnya nilai manfaat hidrologis hutan sampai kini belum banyak diapresiasi oleh publik secara baik, bahkan kegiatan konservasi dianggap sebagai cost center. Pengguna air banyak yang tidak menyadari nilai hidrologis hutan yang selama ini menyangga kehidupannya. Ekosistem hutan berperan penting dalam menjaga aliran air yang mantap dan kualitas air. Hutan berperan dalam memperlambat laju aliran permukaan di suatu DAS, mengurangi erosi tanah dan sedimentasi, meningkatkan resapan air yang masuk ke dalam tanah, menjaga produktifitas akuatik di badan sungai, dan mempengaruhi presipitasi dalam skala regional (Johnson et.al., 2002; Verwij, 2002). Akibat tidak dipahaminya nilai manfaat hidrologis yang berasal dari ekosistem hutan tersebut telah meningkatkan laju degradasi hutan. Jasa hidrologis hutan tersebut terancam seiring dengan meningkatnya laju degradasi hutan yang mengganggu keseimbangan proses ekologis hutan.

Fluktuasi debit yang tinggi antara musim hujan dan musim kemarau yang masing-masing berupa banjir dan kekeringan, serta tingginya erosi dan sedimentasi adalah beberapa dampak negatif degradasi hutan terhadap karakteristik hidrologis DAS. Dampak negatif tersebut juga memicu konflik diantara pengguna air, misalnya pada musim kemarau terjadi pertikaian antar petani di berbagai wilayah dalam memperebutkan aliran air yang masuk ke areal pertaniannya.

Terjadinya laju degradasi hutan berikut dampak negatifnya setidaknya dipengaruhi oleh kurangnya apresiasi publik terhadap nilai-nilai manfaat ekonomi dari barang dan jasa yang dihasilkan dari ekosistem hutan. Dalam hal ini rendahnya apresiasi terhadap suatu nilai barang atau jasa cenderung mengabaikan upaya pelestarian barang atau jasa tersebut.

Oleh karena itu upaya meningkatkan apresiasi nilai manfaat hidrologis hutan penting dikembangkan untuk mendorong peningkatan upaya-upaya konservasi ekosistem hutan.

Air merupakan output hidrologis hutan yang menjadi jasa lingkungan hutan serta berpengaruh terhadap fungsi konsumsi dan produksi masyarakat. Untuk menjamin keberlanjutan jasa hidrologis tersebut perlu dijamin konservasi ekosistem hutannya melalui sejumlah dana kompensasi konservasi yang berasal dari pengguna air (water users).

Dana tersebut merupakan salah satu bentuk tanggung-jawab pengguna air untuk membantu mendanai kegiatan konservasi ekosistem hutan yang selama ini memasok kebutuhan airnya. Alokasi dana kompensasi konservasi hanya dialokasikan khusus untuk kegiatan konservasi hutan yang menjadi daerah tangkapan sumber air yang dimanfaatkan.

*) Staf Pengajar di Fakultas Kehutanan Universitas Winaya Mukti. Jatinangor-Jawa Barat. Dosen luar biasa di Program Studi PSAL, Sekolah Pasca Sarjana IPB. E-mail : hikmatrmd@yahoo.com