Mengenal Alam ke Gunung Halimun
 
Fachruddin Mangunjaya

Faktanya banyak  orang Jakarta yang belum sadar ada tempat wisata yang mencerahkan sekaligus mendidik untuk anak-anak mengenal alam. Kami memutuskan untuk berwisata alam alias ekowisata ke Taman Nasional Gunung Halimun. Mengapa? Selain letaknya terjangkau dari Jakarta, ternyata tempat ini belum menjadi kawasan favorit bagi warga Jakarta yang umumnya kearah yang sama—sehingga terjebak kemacetan—yaitu menuju Puncak, Cianjur.

Taman Nasional Gunung Halim-Salak, kini—di klaim oleh Departemen Kehutanan—sebagai kawasan dengan tutupan hutan alam paling besar di Jawa, yaitu 113 ribu hektare, bandingkan dengan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang hanya 15 ribu hektare, atau Taman Nasional Merapi yang hanya 6 ribu hektar.

Jauh-jauh hari, saya menghubungi Teguh Hartono dari Yayasan Ekowisata Halimun (YEH), untuk menanyakan fasilitas yang mungkin tersedia di kawasan hutan lingdung yang terdapat di Jawa Barat itu. Daerah yang paling dekat bisa di kunjungi di Taman Nasional Halimun-Salak (TNGHS) adalah desa Citalahap, 125 km dari Jakarta. Disini telah disediakan lima rumah untuk tamu bagi yang ingin tinggal dengan masyarakat kampung (homestay) dengan bayaran murah, dan wisma tamu, dengan fasilitas mandiri dan biaya cukup murah.

Ternyata memang benar, ke arah Gunung Halimun, dengan suasana peak season —libur panjang—tidak banyak pengunjung datang ke kawasan ini. Tentu saja ini sangat menguntungkan, saya berpikir dalam libur panjang seperti ini, orang Jakarta tidak ke kawasan ini karena dua kemungkinan: 1. belum tahu, 2. tidak mau berkunjung ke kawasan hutan alam karena terlalu takut dengan segala resiko petualangannya. Hal sebaliknya, karena jenuh di perkotaan, penduduk di negara-negara maju seperti Jepang, Amerika dan Eropa, menyerbu kawasan hutan alam di sekitar mereka untuk mengisi libur panjang, maka taman nasional dan hutan wisata menjadi tempat favorit untuk dikunjungi.

Memang ekowisata merupakan prinsip wisata yang khas, selain untuk mereka yang memang mencintai alam dan kesegaran suasana alami tidak artifisial –serba palsu, dengan hutan yang direkayasa atau dibuat menirukan hutan alam, umpamanya di hotel atau restoran—seperti di perkotaan, ekowisata memerlukan nyali untuk siap tinggal agak lebih sederhana, hidup seadanya di alam, misalnya berkemah atau tinggal bersama penduduk desa di rumah mereka dengan fasilitas seadanya di home stay.

Homestay, merupakan upaya para aktifis konservasi —bekerjasama dengan pemerintah—untuk mencari jalan keluar pengembangan ekonomi alternatif bagi masyarakat yang berada disekitar kawasan hutan lindung atau taman nasional, agar mereka mendapatkan in-come tambahan, tanpa harus merambah hutan sekitar mereka. Dengan demikian, dampak ekowisata menggunakan homestay sekaligus berkontribusi terhadap pelestarian hutan alam, dan berdampak sangat positif bagi keyakinan masyarakat setempat bahwa mereka mendapatkan perhatian dan pendapatan langsung dari wisatawan yang berkunjung sambil menjaga hutan mereka agar tetap lestari.

Bagi saya dan keluarga, ini benar-benar ekowisata keluarga yang asik untuk anak-anak kami setingkat SD dan SMP untuk memperkenalkan kepada mereka suasana pedesaan yang asli sekaligus mengingatkan mereka pada pelajaran ekologi dan biologi yang mereka pelajari di sekolah. Nazmi Lulu Alam (8 tahun), dan Fadil Hairusi (11 tahun) merupakan anggota keluarga kami yang paling muda dalam rombongan dan ternyata paling bersemangat untuk melihat hutan alam asli.

Asep Supriadi, 26 tahun, pemandu wisata alam yang menjadi penunjuk jalan kami telah siap menunggu di Kantor TNGHS, Kabandungan, yang masih masuk Kabupaten Sukabumi. "Kalau bapak berangkat dari Jakarta jam 7.00, sampai di kantor Taman Nasional Gunung Halimun jam 10.00 pak," kata Asep melalui pesan pendeknya pada saya. Benar saja, perkiraan Asep, yang telah terbiasa menerima tamu itu. Berangkat dari Jakarta jam 7.30, sampai di Kantor TNGHS sekitar pukul setengah sebelas.

Sesuai prosedur, kami harus membeli tiket masuk, memasuki kawasan taman nasional, juga untuk kendaraan yang kami bawa masuk kedalam kawasan. Kantor taman nasional, menyediakan pula beberapa tempat untuk keperluan penginapan (guest house), yang cukup nyaman, ruang pertemuan dan juga sebuah gedung khusus untuk interpretasi, berisi foto-foto, peta dan maket kawasan TNGHS guna memberikan penjelasan kepada pengunjung.

Fasilitas ini mengingatkan saya ketika berkunjung ke Taman Nasional Great Smoky Mountain, di Amerika Serikat pada tahun 1993, yang menyediakan fasilitas yang mirip tetapi lebih lengkap, dengan museum spesimen, lab penelitian, gedung intrepretasi, gedung pertunjukan mengenai taman nasional dan sejenisnya. Bedanya Kantor TN Great Smoky, jauh berada di kawasan datar dan terisolasi dari penduduk, tersedia kawasan parkir yang cukup luas, sedangkan Kantor TNGHS masih menyatu dengan perkampungan, dan dekat dengan penduduk, berada di pegunungan dan terasa masih sempit.

Pulau Jawa, adalah pulau yang sempit dengan penduduk padat, maka tidak heran jika ingin menjumpai tanah dataran rendah dengan lahan luas masih belum terisi penduduk, tentu sangat sulit. Maka, tidak heran kalau kawasan pegunungan pun, telah terisi penduduk sejak ratusan tahun yang lalu. Desa Citalahap, yang kami kunjungi, adalah contohnya. Desa ini merupakan kawasan tanah lembah di bagian Utara Puncak Gunung Halimun sebelah Selatan, dengan ketinggian antara 1000-1100 meter dari permukaan laut. Jadi desa ini dijumpai ditengah hutan dan jauh di puncak gunung. Maka kesejukan udara pegunungan sudah tentu terasa di kawasan ini. "Desa kecil ini, hanya dihuni oleh 16 kepala keluarga, dan telah berada di kawasan Gunung Halimun jauh sebelum taman nasional ditetapkan," kata Asep Supriadi menjelaskan. Maka Desa Citalahap adalah kawasan kantong (enclave) yang berada di tengah kawasan taman nasional, jelasnya lagi.

Menuju kawasan ini kami menempuh jalan berbatu, dengan jarak tempuh 2 jam. Inilah uniknya, kami harus turun naik dengan mobil pribadi dijalan berkelok, penuh lumpur dan cukup licin. Apalagi ketika mendaki bukit itu, suasana tengah hujan. "Ini merupakan sebagian dari paket ekowisata Gunung Halimun,"kata saya berseloroh kepada keluarga kami sambil menyetir.

Benar juga, mobil kami dengan ukuran ban 13 inci ternyata tidak bisa menjalani medan yang demikian berat. Dan kendaraan saya mengalami pecah ban. Kekurang siapan untuk menempuh hutan belantara ternyata bisa menjadi pelajaran, siapkan ban yang serap dan pompa! Kelalaian itu membuat perjalanan kami menjadi terlambat. Untung saja saya masih bisa mendapatkan pertolongan dari ban dalam yang masih utuh untuk saya pompa. Akibat aral ini, kami tiba di Desa Citalahap menjelang sore. Tetapi memang penduduk kampung telah siap menerima kami dengan keramahan. Desa Citalahap di suasana sore dengan air sungai deras mengalir, membuat anak-anak kami tidak bisa menahan diri, mereka langsung saja menceburkan diri di sungai yang bersih dan dingin di anak sungai Citalahap.

Halimun, yang berasal dari bahasa sunda: kabut. Memang masih membuktikan dirinya, dingin dan berkabut, termasuk Desa Citalahap. Di Desa ini, air mengalir deras dari pegunungan dan hutan tanpa perlu pompa dan dialirkan melalui pipa-pipa kerumah penduduk selama 24 jam. Listrik diperoleh dari tenaga micro hidro (tenaga air berkekuatan kecil) dengan kapasitas 5000 watt. "Ini contoh tenaga listrik yang sangat ramah lingkungan, karena tidak menggunakan minyak bumi dan bisa menghasilkan tenaga listrik" saya jelaskan kepada anak-anak kami

Sesuai dengan paket ekowisata, petualangan kami dilengkapi dengan menjelajah hutan Gunung Halimun dengan jarak tempuk sekitar 3 jam berjalan kaki: menyusuri jalan setapak di punggung bukit, menuju jembatan kanopi, dan mencapai stasiun riset Cikaniki, kemudian menuju air Terjun Curuk Cimacan, 300 meter dari statisun riset Cikaniki.

Kesegaran udara pagi yang cerah, dihiasi pemandangan hutan yang tetap berkabut di pagi hari, membuat kami tetap bersemangat untuk menyelusuri hutan alam Halimun. Lulu’ Alam dan Fadil peserta termuda kami, tidak mau diapit di barisan tengah, malah dijalur jalan setapak yang hanya bisa di lalui satu orang itu, membuatnya ingin selalu berada di depan."Wah petualang paling muda dan berani," komentar rombongan yang lain.

Mendaki punggung bukit dengan tanah yang licin dan batu terjal memang mengkhawatirkan kalau tidak berhati-hati. Tetapi dua anak ini sangat bersemangat. Ketika menemukan air bersih pegunungan mengalir, Asep memberikan penjelasan bahwa air tersebut adalah bersih dan mereka boleh meminumnya. Kedua anak ini tanpa ragu menadangkan kedua tangan dan menyeruput air mengalir kedalam ceruk kecil tersebut.

Petualangan yang lebih menantang lagi ketika kami menaiki jembatan gantung. Dari jembatan dengan ketinggian 30 meter dan panjang 100 meter ini bisa dinikmati pemandangan dan kita bisa membayangkan, layaknya seekor burung yang hinggap di pohon.

Usai dari jembatan, kami langsung menyebrang anak sungai dan menuju ke bagian bawah jalan, menuju Curuk (mata air) Cimacan. Air yang deras membuat anak-anak tidak bisa menahan diri untuk segera bercebur dan menikmati mata air pegunungan yang dingin dan menyegarkan air sungai Cikaniki dan air terjun Cimacan. Wah segarnya!//