Dana Kompensasi Air untuk Konservasi
Penanaman Pohon di Nagrak Sukabumi
Pemerintah negara maju dan berkembang, telah menerapkan investasi perlindungan untuk merawat sumber air mereka.

Oleh : Hikmat Ramdhan

Upaya konservasi ekosistem hutan dalam fungsinya sebagai resapan air merupakan lingkup kegiatan penting dalam pengelolaan air berkelanjutan dan menjadi tanggung-jawab semua pengguna air di kawasan tersebut. Upaya konservasi hutan memerlukan sejumlah dana yang digunakan untuk melindungi, merehabilitasi, dan mengelola kawasan tersebut agar berfungsi optimal dalam menyediakan jasa hidrologisnya.

Biaya (fee) penggunaan air yang berasal dari kawasan resapan air umumnya belum memasukan biaya yang sebenarnya untuk melindungi dan mengelola kawasan sehingga biaya kerusakan lingkungan yang terjadi akibat pemanfaatan air, dan biaya oportunitas lainnya, berakibat pada nilai air di banyak negara under-value. Akibat dari under-value tersebut, maka air menjadi barang bebas (free good) sehingga dalam banyak kasus in efisiensi penggunaan air terjadi. Deteriorasi sumber air selain itu disebabkan makin meningkatnya kerusakan lahan dan kawasan resapan air telah meningkatkan kerentanan pasokan air bagi masyarakat.

Kondisi ini diperparah dengan ketidakcukupan dana untuk melindungi dan merehabilitasi air di kawasan resapannya.

Dana untuk perlindungan, rehabilitasi, dan manajemen sumber air perlu dipertimbangkan, sehingga penetapan harga sumberdaya air harus dapat merefleksikan biaya pengambilan air dan biaya lingkungan yang timbul akibat penggunaan air. Biaya lingkungan dapat direfleksikan dengan biaya rehabilitasi untuk kawasan sumber mata air (Cruz, et.al, 2000).

Kegiatan konservasi kawasan sumber air yang menjamin keberlanjutan ketersediaan air memerlukan biaya relatif lebih kecil daripada biaya investasi untuk membangun fasilitas pasokan dan pengolahan air yang baru.

Sebagai contoh dengan investasi sebesar US $ 1 milyar dalam perlindungan dan konservasi tanah di New York diharapkan akan menghindari pengeluaran dana sebesar US $ 4-6 milyar untuk instalasi penyaringan dan pengolahan air. Untuk setiap investasi sebesar US $ 1 dalam perlindungan DAS di negara bagian Amerika Serikat lainnya (Portland, Oregon, Seatle, dan Washingthon) juga menghemat biaya untuk pembuatan fasilitas penyaringan dan pengolahan air antara US $ 7,5 sampai 200 (Johson, et.al, 2001).

Sumber dana kegiatan konservasi umumnya masih mengandalkan dari pemerintah yang berasal dari berbagai sumber pendapatan misalnya dari pajak umum, dan tidak didasarkan atas nilai aktual jasa (hidrologis) yang disediakan oleh kawasan tersebut. Kelemahan pola pendanaan konservasi ini dapat terjadi apabila sistem pajak tidak efektif dan adanya krisis ekonomi menyebabkan terjadinya penurunan dana konservasi. Selain pola pendanaan konservasi yang bersumber dari pemerintah tersebut, di beberapa negara diterapkan pula pola pendanaan yang melibatkan pihak pengguna/swasta secara langsung (self-organized private deals).

Mekanisme pendanaan berdasarkan sel-forganized private deals untuk membiayai kegiatan perlindungan kawasan sumber air dilakukan dengan meminimalkan keterlibatan pemerintah. Contoh diterapkannya mekanisme pendanaan ini adalah kasus perusahaan air minum kemasan di Perancis yaitu Perrier-Vittel mendanai petani untuk membangun fasilitas moderen dan mengubah pola tani konvensional menjadi pertanian organik untuk menghindari dampak negatif aliran hara dan ancaman pestisida yang mengancam sumber air baku minumnya. Perusahaan-perusahaan pertanian besar di Lembah Cauca (Colombia) mendanai masyarakat di bagian hulunya untuk melakukan kegiatan penghutanan kembali, pengendalian erosi di lahan miring, perlindungan mata air, dan pembangunan masyarakat di bagian hulu untuk meningkatkan aliran dasar (base flows) dan mengurangi sedimentasi di saluran irigasi.

Contoh yang hampir sama dengan di Colombia dilakukan pula oleh Grupo de Oro yang berusaha di bidang pengembangan jeruk di Costa Rica memberikan dana kompensasi sebesar US $5 per hektar untuk Guanancaste Conservation Area (GCA) yang selama ini menyediakan jasa air dan jasa ekologis polinasi serangga. Mekanisme pendanaan self-organized private deals ini tidak hanya dilakukan oleh badan usaha saja, tetapi juga diterapkan pada rumah tangga pengguna air. pengguna air rumah tangga yang memanfaatkan air dari Kawasan Hutan Makiling, Los Banos Filipina bersedia memberikan tambahan biaya (additional payments) antara $ 0.03 - $0.04 per meter kubik dari air yang digunakannya untuk membiayai berbagai kegiatan perlindungan dan rehabilitasi kawasan sumber mata air di Makiling (Johnson, et.al., 2001; Cruz, et.al, 2000).

Di wilayah yang menerapkan mekanisme kompensasi atas aliran air yang merupakan bentuk nilai jasa hidrologis hutan pada umumnya memiliki apresiasi nilai terhadap nilai hidrologis hutan yang baik.