20 tahun CI Berkiprah di Indonesia
 
 
 

Oleh : Jatna Supriatna, PhD.

Tidak bisa dipungkiri bahwa Indonesia sangat penting bagi dunia karena bukan saja sebagai gudang mikroba, flora dan fauna atau keanekaragaman hayati  baik di darat maupun di laut tetapi juga karena letak geografisnya berada di kawasan tropis dan diantara dua  benua: Asia dan Australia.  Dengan  letaknya yang berada di khatulistiwa dan mempunyai lebih dari 17 ribu pulau, Indonesia adalah setara bahkan lebih dari Brazil sebagai negara yang mempunyai keanekaragaman hayati tinggi, melebihi negara-negara lainnya di dunia. Walaupun negara kita hanya 1,3% dari  luas kawasan dunia. 

Indonesia memiliki 10% jenis dari seluruh tumbuhan berbunga yang ada di dunia, 12% jenis dari seluruh binatang menyusui yang ada di dunia, 16%  jenis dari seluruh reptilia dan amfibia yang ada di dunia, 17% jenis dari seluruh burung yang ada di dunia, 25% jenis dari seluruh jenis ikan, dan 15% jenis dari seluruh jenis serangga yang ada di muka bumi.

Latar belakang diatas, membuat CI Indonesia sangat aktif melakukan riset dan melakukan survey dengan metoda RAP (Rapid Assessment Program) baik di laut seperti di Raja Ampat, Kaimana, Maluku, Aceh, bahkan  sampai ke laut Brunei Darussalam serta di daratan Tanah Papua, Kepulauan Mentawai, dan Sumatra. Beberapa buku telah ditulis dan begitu juga makalah di seminar internasional maupun publikasi di jurnal ilmiah. Untuk melindungi kawasan-kawasan yang sangat penting tersebut, CI Indonesia telah membantu pemerintah Indonesia dengan pendanaan, bantuan teknis dan tenaga ahli kebijakan.

Beberapa kawasan yang terbatu diantaranya seperti Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Taman Nasional Halimun dan Salak, Taman Nasional Batang Gadis, Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Mentawai, Taman Nasional Tanjung Puting, Taman Nasional Togean, Suaka Alam Mamberamo dan Taman Laut Raja Ampat dan yang lainnya.  Beberapa jenis satwa yang pernah mendapat perhatian khusus CI selama 20 tahun ini adalah orangutan sumatra dan kalimantan, harimau sumatra, owa jawa, macan tutul jawa dan jenis-jenis biota lainya baik di laut maupun  di hutan.

Kekayaan alam setiap negera seringkali dijadikan ukuran apakah negara itu akan menjadi makmur atau menjadi hancur. Logikanya, negara yang mempunyai kekayaan sumber daya alam mempunyai kesempatan lebih banyak untuk menjadi makmur  daripada negara yang miskin, kecuali negara tersebut mempunyai sumber daya manusia yang baik. Namun, kenyataannya saat ini negara yang miskin sumber daya alam pun menjadi makmur seperti negara-negara Eropa, Jepang, Korea dan lainnya. Oleh karena itu negara makmur tidak selalu negara yang mempunyai sumber daya alam yang cukup tinggi. Justru sayangnya, negara yang mempunyai kekayaan alam tinggi seringkali juga hancur lebih disebabkan  bukan hanya ketidak mampuan mengelolanya tetapi-- yang lebih ironis-- adalah karena adanya  keserakahan dalam mengelolanya.  Keserakahan dan ketidakmampuan untuk mengelola sumber daya, baik dengan legislasi maupun dengan kebijakan dan teknologi, sering membuat negera-negara tersebut mengalami keterpurukan ekonomi bahkan sosial budaya masyarakatnya.

CI Indonesia sejak tahun 2001, memonitor kerusakan hutan dan kebakaran di beberapa pulau di Indonesia khususnya di Sumatra dan Papua. Bekerjasama dengan Direktorat Jendral PHKA Kementrian Kehutanan, CI Indonesia telah memantau kebakaran hutan dan illegal logging di Sumatra secara intensif dengan satelite. Pemantauan ini dikerjakan bersama dengan beberapa organisasi di luar negeri yaitu NASA, Universitas Maryland yang pendanaannya didukung oleh USAID. Selain itu juga selama lima  tahun, pemantauan hutan Sumatra telah dikerjasamakan dengan lebih dari 70 LSM baik nasional maupun internasional atas dukungan CEPF (Critical Ecosystem Partnership Fund). 

Selain itu, telah dilakukan pula usaha memetakan kawasan-kawasan kunci, untuk  memprioritaskan flora dan fauna yang  perlu dilindungi akibat ancaman kepunahan,  serta menghindari perusakan habitatnya. Peta seperti Kawasan Kunci Keanekaragaman Hayati (Key Biodiversity Area --KBA) memegang  peranan strategis dan menggali  nilai kegunaan konservasi yang penting,  telah banyak dilakukan oleh  berbagai pihak baik  lembaga-lembaga  dunia, perkumpulan ahli maupun oleh pemerintah. 

Pada prinsipnya usaha untuk menggali nilai pengetahuan atas alam tersebut  dibagi dalam pendekatan yang didasarkan atas nilai intrinsik dari alam dan nilai manfaat atau kegunaan.  Nilai intrinsik  atau nilai yang diturunkan yang diperlukan untuk keberadaan jenis tersebut. Nilai kegunaan sudah banyak dielaborasi  untuk kegunaan bersifat komoditas (pakan, kayu, kesehatan, energi), jasa (oksigen, nitrogen, serangga penyerbuk, kawasan tangkapan air), informasi genetika (plasma nutfah) dan spritual (keindahan, agama dan sosial).  Pada dasarnya, dari nilai-nilai inilah prioritas pengembangan konservasi dilakukan  baik didasarkan nilai intrinsik maupun kegunaannya. Jasa lingkungan ini menjadi prioritas CI di awal tahun 2008 sampai sekarang termasuk upaya pengembangan penurunan emisi gas rumah kaca dengan jalan mencegah degradasi hutan dan lahan (REDD+  bersama berbagai institusi pemerintah dan swasta khususnya kerjasama dengan Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI). 

Keanekaragaman jenis dan pemanfaatannya dapat membuat hubungan yang unik. Hubungan sumberdaya yang tersedia dengan pemanfaatannya kadang kadang bisa berjalan secara linear. Sebaliknya pemanfaatannya yang merusak dapat menimbulkan akibat yang sifatnya eksponensial. Banyak spesies spesies asli yang telah berhasil dibudidayakan untuk menjamin kebutuhan pangan kita misalnya: padi, tebu, dan pisang. Ada pulua untuk kesehatan seperti kunyit dan jahe, serta untuk bahan bangunan  umpamanya bambu dan kayu sungkai.

Indonesia juga memperoleh devisa dari ekspor tumbuhan yang bukan asli yang didatangkan dari berbagai belahan dunia  tetapi telah ditanam cukup lama seperti teh, kopi, tembakau, coklat, dan karet. Di samping yang telah dibudidayakan, banyak spesies yang telah dimanfaatkan meskipun masih hidup liar di hutan hutan Indonesia. Tumbuhan obat seperti pasak bumi, kepuh, kedawung, dan temu hitam dipanen dari populasi alami. Hutan kita pun dihuni oleh kerabat liar tanaman budidaya seperti durian hutan, rambutan hutan, tengkawang serta rotan. Oleh karena itu perburuan untuk mendapatkan sampel  biota  sebagai  bahan penelitian  obat-obatan, sandang dan pangan berkembang sangat pesat. CI Indonesia sangat aktif untuk melakukan riset-riset yang ada kaitannya dengan pemanfaatan. Makalah Bioprospecting telah ditulis oleh peneliti dari CI Indonesia dan CI pusat dan diskusi mengenai permasalahan ini sudah lama dilakukan.  

Pengembangan komoditi pertanian  “green label” dan “shaded” menjadi populer sejalan dengan berkembangnya konsumer hijau di  negera-negara maju.  CI Indonesia menjadi pioneer dalam mengembankan green label dan non timber forest product. Starbuck coffee yang mempunyai lebih dari 10.000 café di seluruh dunia menawarkan kopi yang berasal dari  bawah pohon pelindung (shaded grown coffee) dengan cara produksi kopi tidak dengan menghancurkan hutan tropis, tetapi kopi yang ditanam di hutan dibawah naungan pohon-pohon asli. Komoditi seperti kopi berlabel hijau  kemudian merebak dengan adanya komoditi hijau lainnya lainnya seperti coklat, vanili, rempah-rempah dan lainnya. Ada juga hal yang buruk dalam perkembangan produk pertanian hijau ini. Beberapa peneliti juga melihat  hubungan perkembangan perkebunan kopi masyarakat dengan tingkat deforestasi di provinsi Lampung.

Dari hasil penelitian ini jelas bahwa hutan tropis dijadikan sasaran utama untuk pengembangan kopi baru, sehingga disimpulkan apabila kopi dijadikan alternatif  pengalihan ekonomi rakyat dari hutan, tujuan mencegah  deforestasi tinggi tidak akan tercapai.  Untuk itu diperlukan prinsip kehati-hatian agar pelabelan kopi hijau hanya di kawasan yang memang tidak merusak hutan  alam. CI Indonesia bersama dengan Starbuck melakukan pengembangan komoditi berlabel hijau ini di Sidikalang Sumatra Utara dan Aceh. Selain itu bersama dengan GT Tire, pembuat ban mobil terkenal dari Indonesia mengembangkan karet yang tidak merusak alam di Sumatra.

Penggundulan oleh HPH dan pembakaran hutan untuk tanah pertanian dan penggunakan kayu bakar untuk konsumsi rumah tangga juga menjadi ciri khas di hutan tropis seperti di Indonesia. Akibatnya bukan saja hutan di Indonesia telah hilang dengan penyusutan tertinggi di dunia selama beberapa dasawarsa 80 dan 90  terutama sekali pada fase perubahan radikal politik desentralisasi  pengelolaan hutan antara 1997 dan 2002.  Penggundulan hutan ini bukan hanya menyengsarakan masyarakat sekitar hutan tetapi asap hasil terbakarnya hutan menyebabkan negara tetangga terganggu ekonomi dan kesehatannya. Penggundulan hutan juga memberikan sumbangan bagi kenaikan konsentrasi karbon dioksida.

Konsentrasi karbondioksida  di atmosfir  telah naik dari 290 ppm menjadi 350 ppm selama 100 tahun terakhir ini dan diperkirakan akan mencapai 400-550 ppm pada tahun 2030. Walaupun telah dilakukan usaha besar-besaran untuk menurunkan produksi karbondioksida, konsentrasi di atmosfir hanya akan berkurang sedikit sekali karena molekul karbondioksida bertahan selama 100 tahun di udara sebelum akhirnya diambil oleh tumbuhan atau dihilangkan oleh proses geokimia.

Krisis global terhadap lingkungan termasuk perubahan iklim mengharuskan pekerja konservasi bekerja keras dan memerlukan partner lebih luas. Pada COP 13 di Bali, CI Indonesia bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) memfasilitasi komitmen dan statemen pemuka-pemuka agama di Indonesia –Islam, Kristen, Hindu, Budha dan Konghocu, dalam upaya menanggulangi perubahan iklim dan degradasi lingkungan. Kami menjalin kerjasama dengan tokoh agama untuk melibatkan kekuatan yang lebih besar dalam gerakan lingkungan dan konservasi di Indonesia untuk melindungi Ciptaan Tuhan. Pendekatan yang sama kami lakukan dalam upaya pemberdayaan masyarakat di Aceh setelah tsunami, kami bekerja dengan ulama dan ustadz dan guru-guru sekolah dalam program Timber for Aceh (TFA) bersama WWF.

20 tahun CI Indonesia berkiprah, rasanya banyak tantangan yang tak kunjung selesai. Oleh sebab itulah, kami merasa, para mitra –dimana terima kasih terucap -- seperti terlampir pada buku ini telah mempunyai andil yang tidak sedikit,Terima kasih tak terhingga  pula kepada staff yang penuh dedikasi dan perjuangan dalam ikut melestarikan alam Indonesia dan planet bumi kita ini.

*) Dr Jatna Supriatna, adalah mantan Regional Vice President dan Executive Director CI Indonesia, dan sekarang Dosen di Universitas Indonesia.