Ekspedisi Foja, Mamberamo
©CI/Photo by Yance de Fretes
Spesies baru terus jumpai dari Mamberamo. Apabila kekayaan hayati ini tidak diteliti, bisa saja mereka punah sebelum diketahui dunia ilmu pengetahuan.

Kawasan Mamberamo termasuk salah satu daerah di Tanah Papua yang asli dan sebagian belum terjamah oleh manusia. Kawasan ini memiliki berbagai jenis hutan: mulai dengan hutan dataran rendah, hutan rawa dan hutan rawa campuran, sampai ke hutan pegunungan (misalnya yang terdapat di sekitar puncak di Pegunungan Foja).

Sama seperti kawasan lainnya di Tanah Papua, informasi tentang keanekaragaman hayati kawasan ini belum banyak diketahui. Di sisi, kebutuhan informasi keanekaragaman hayati dan pengetahuan tentang sumber daya alam kawasan ini sangat diperlukan saat ini mengingat Kawasan Mamberamo termasuk salah satu dari daerah pemekaran di Papua.

Informasi tentang keanekaragaman hayati di Kawasan Mamberamo kebanyakan merupakan hasil penelitian beberapa dekade yang lalu, misalnya dari Ekspedisi Archbold pada tahun 1938-39; serta informasi dari kunjungan singkat ke Gunung Foja oleh Jared Diamond, salah seorang ahli konservasi dan penulis biogeographi terkenal pada tahun 1981. Kegiatan Ekspedisi Archbold pun lebih banyak berpusat di daerah Pengunungan Tengah.

Pada September 2000, CI berkerjasama dengan Universitas Cenderawasih (UNCEN), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Irian Jaya 1, YALI dan Dewan Adat Mamberamo Raya (DAMR) melakukan kegiatan penelitian di hutan sekitar Dabra. Penelitian berhasil mencatat beberapa spesies baru bagi dunia ilmu pengetahuan, termasuk 7 spesies katak.

Pada Juli 2004, CI bekerjasama dengan Papua Conservation Fund (PC-Fund), Universitas Cenderawasih dan South Australian Museum (SAM) penelitian kupu-kupu dan herpet di hutan sekitar Marina Valen. Penelitian ini bertujuan untuk melengkapi data tentang kupu-kupu dari kawasan Mamberamo, dan digunakan dalam penulisan buku Panduan Lapangan Kupu-kupu untuk Kawasan Mamberamo sampai Pegunungan Cyclops.

Penelitian ini juga berhasil mencatat 43 spesies katak, dimana 15 spesies atau 35 persen adalah spesies yang baru bagi dunia ilmu pengetahuan. Suatu catatan yang sangat luar biasa dan hanya bisa didapat pada beberapa tempat di kawasan tropis. Pada tahun 2003, direncanakan untuk melakukan penelitian pada daerah dataran tinggi dan pengunungan untuk mendapat informasi yang lebih lengkap: mulai dari dataran rendah sampai ke kawasan Gunung Foja (atau Gunung Weja, nama yang lebih dikenal di Kampung Kwerba dan Papasena), tetapi karena berbagai peristiwa dan perkembangan situasi keamaan di Indonesia kegiatan ini tertunda.

Kegiatan RAP pada Pengungan Foja baru dapat dilaksanakan kembali pada 9 November – 9 Desember 2005. Kegiatan ini menurunak 13 peneliti dengan berbagai keahlian: burung (2 orang), kupu-kupu (2 orang), herpetologi (2 orang), mammalia (3 orang) dan tumbuhan (4 orang). Para ahli datang dari beberapa lembaga penelitian dalam dan luar negeri, seperti South Australian Museum (SAM), Pusat Penelitian Biologi LIPI (Puslit LIPI), Universitas Cenderawasih dan Universitas Negeri Papua, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Papua I, serta Conservation International. Selama kegiatan penelitian lapangan yang berlansung sekitar 3 minggu ini, tim peneliti dibantu oleh ratusan orang masyarakat Kwerba dan sekitarnya, baik sebagai pemandu maupun porter.

Lokasi penelitian, termasuk hutan sekitar Kampung Kwerba dan Sungai Mamberamo; Muara Kali Manirim (atau Manirimnya, dalam bahasa Kwerba), yang berjarak sekitar 4-5 jam perjalanan dari Kwerba; Muara Hotice, yang berjarak sekitar 8 jam perjalanan dari Kwerba; serta Gunung Foja (dengan ketinggian sekitar 1800 m dari permukaan laut). Kegiatan penelitian di Gunung Foja ini dimungkinkan dengan dukungan transportasi udara (helikopter) dari HeliMission.

Hasil Ekspedisi
Paling tidak terkumpul dan tercata 550 spesies tumbuhan, 24 spesies palem-paleman, 5 spesies baru 1 spesies pinang-pinangan, 2 spesies rotan dan 2 spesies palem Licuala.

Identifikasi awal menunjukkan sedikitnya ada 4 spesies kupu kupu Delias yang baru.

Kelompok herpetologi mencatat sekitar 30 spesies reptilia dan 50 spesies katak. Hasil pengamatan yang menarik adalah ditemukan kembali (rediscovery) katak, Nyctimystes fluviatilis, yang selama ini hanya diketahui dari 2 spesimen yang dikoleksi di daerah Mamberamo. Diperkiraan dari jumlah ini ada sekitar 15-20 spesies katak merupakan spesies baru dalam dunia ilmu pengetahuan.

Ekspedisi ini berhasil memotret secara langsung burung mandur dahi emas (Amblyornis flaviforns) yang pertama kali di alam, penelitian juga untuk pertama kali mencatat bulu burung betina. Peneliti burung juga berhasil mencatat burung cenderawsih parotia, yang mirip dengan Parotia berlepschi. Spesies ini dianggap "hilang" karena selama ini dicatat hanya sebagai sub-spesies, dengan hasil penelitian ini burung, ciri karateristik baru akan digunakan untuk pengusulan sebagai sebagai spesies tersendiri (Parotia berlepschi).

Kelompok ini juga berhasil menemukan satu spesies burung baru bagi dunia ilmu pengetahuan. Burung ini masuk dalam famili burung pengisap madu (honeyeater — Meliphagidae), yang mirip dengan Melipotes Pipi-Kuning yang berasal di Pegunungan Arfak.

Dibandingkan hasil RAP sebelumnya, hasil penelitian mammalia dalam RAP ini sangat signifikant. Misalnya dua RAP sebelumnya di Wapoga dan di Dabra, hanya berhasil mengamati 11 spesies dan 9 spesies mammalia, yang kebanyakan terdiri dari kelelawar dan tikus. Bahkan RAP sebelumnya di Papua New Guinea (Lakekamu) dan New Ireland. RAP ini berhasil 37 spesies mammalia. Hasil paling menarik adalah tim mammalia berhasil menangkap kanguru pohon keemasan (Dendrolagus pulcherrimus).

Hasil penelitian mammalia yang paling menarik adalah berhasil diamati spesies Landak Papua (Zaglossus sp). Ini merupakan salah satu 3 spesies monotremata (mammalia yang bertelur) yang masih hidup di dunia, dan hanya terdapat di Australia, Tasmania dan New Guinea (Papua dan Papua New Guinea).

Hasil analisa fossil menunjukkan bahwa paling tidak ada 3 spesies Zaglossus pernah hidup di New Guinea. Zaglossus bartoni (punah) yang pernah hidup di Pegunungan Tengah; Zaglossus attenboroughi (punah) yang pernah hidup dan merupakan spesies endemik Pegunungan Cyclops; Zaglossus buijnii (spesies yang masih hidup saat ini) yang terdapat dan merupakan spesies endemik Daerah Kepala Burung, sehingga besar kemungkinan bahwa Zaglossus yang berhasil diamati di Pengunungan Foja adalah spesies yang baru bagi dunia ilmu pengetahuan.