Program Kaji Cepat (Rapid Assessment Program-RAP)
RAP dimaksudkan mengekplorasi keanekaragaman hayati secara efisien dan cepat

Program Kaji Cepat (Rapid Assessment Program) merupakan upaya pendataan dan identifikasi secara cepat yang dilakukan oleh peneliti Conservation International bekerja sama dengan peneliti kelas dunia dan institusi kelas dunia lainnya, seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), universitas dan lembaga penelitian lainnya, serta pihak pemerintah di tingkat nasional dan daerah. Adapun spesimen dari penemuan-penemuan penting ini disimpan di Museum Zoologi Bogor  (sekarang Bidang Zoologi) dan Herbarium Bogoriense (Sekarang Bidang Botani), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

LIHAT: 20 Tahun Seribu Penemuan Baru

RAP untuk kawasan daratan pertama kali dilakukan oleh CI Indonesia di Daerah Sungai Wapoga, Irian Jaya (sekarang Papua) di tahun 1998. Wilayah ini dipilih karena diidentifikasi dalam Lokakarya Penetapan Prioritas Konservasi pada tahun 1997 sebagai wilayah yang hampir tidak memiliki data tentang ekologi dan biogeografi.  Penjelajahan ini menemukan beberapa spesies baru: 5 spesies tumbuhan, 36 spesies kumbang, 17 spesies serangga, 3 spesies ikan pelangi, 29 spesies katak, dan 2 spesies ikan. 

 Pada tahun 2000, survei RAP di Yongsu,Gunung Cyclops dan Lembah Mamberamo menghasilkan temuan spesies baru yaitu17 spesies serangga air tawar, 1 spesies ikan, 9 pesies katak, 3 spesies reptilia. Kegiatan ini dilakukan bersama-sama dengan  Universitas Cendrawasih (UNCEN), Museum Zoology dan Herbarium Bogoriense (LIPI), Bishop Museum, Australian Museum of Natural History, Naturalis Museum, Leiden – the Netherlands, Institut Teknologi Bandung, dan James Cook University.
RAP juga dilakukan di Pegunungan Foja dan kemudian Mamberamo  dilakukan pada tahun 2005, dan 2007.  Hasil RAP ini kembali mengguncangkan dunia dengan ditemukannya lebih dari 75 spesies baru bagi ilmu pengetahuan yang terdiri dari lebih dari 40 jenis artropoda, sekitar 20 jenis katak, dan tidak kurang dari 10 jenis tumbuhan, lima jenis mamalia dan dua jenis burung.

RAP juga dilakukan oleh peneliti CI dan LIPI untuk mendidentifikasi keanekaragaman hayati di kawasan Taman Nasional Batang Gadis yang masa itu baru dicalonkan menjadi taman nasional (2003) dan di Pulau Siberut (2006).

LIHAT JUGA: Koridor Mamberamo, Foja

Di wilayah laut Indonesia, CI mendukung Balai Konservasi Sumber daya Alam (BKSDA) Papua, LIPI, dan Universitas Papua (UNIPA) memulai RAP pada tahun 2001 di wilayah Bentang Laut Kepala Burung Papua yang hasilnya mengguncang dunia.  Dimulai dengan RAP kelautan di Raja Ampat (2001), Teluk Cendrawasih (2006) dan wilayah Fak-fak-Kaimana (2006).  Rangkaian survei ini, diperkuat oleh kaji cepat ekologi yang dilaksanakan oleh mitra kami The Nature Conservancy di tahun 2002 dan lima survei perikanan lanjutan di antara tahun 2007 - 2009.

Hasil dari program kaji cepat ini menunjukkan bahwa wilayah Kepala Burung Papua, berada pada pusat keanekaan hayati laut dangkal yang utama di dunia.  Di samping tingkat endemisme yang tinggi (sekitar 40 jenis karang keras baru dan dari 57 jenis stomatopoda yang dikenal di dunia, 11 merupakan jenis baru dan delapan di antaranya endemik di wilayah ini) tercatat ada 1511 jenis ikan karang di Bentang laut Kepala Burung Papua dari 451 genera dan 111 familia (jumlah ini terus meningkat, saat terakhir tercatat 1613 jenis! Dan sedikitnya 39 jenis ikan karang endemis). 

Di Bentang Laut Kepala Burung Papua ini juga tercatat sekitar 600 jenis karang keras, yang merupakan 75% dari spesies karang yang ada di dunia (Veron dkk, 2009, dalam mendeliniasi wilayah segitiga karang - Coral Triangle).  Hasil RAP ini mengarahkan CI dalam menetapkan prioritas konservasi keanekaan hayati laut dan menjadi katalis dalam investasi konservasi terbesar CI hingga saat ini.

LIHAT JUGA:  Bentang Laut Kepala Burung (BHS)