Bentang Laut Sulu Sulawesi
Zumbrunn Raja Ampat 
 
 
© CI/photo by Zumbrunn
 
 

Bentangan laut Sulu-Sulawesi,  yang terletak di antara Indonesia, Malaysia dan Filipina, dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati laut di dunia. Bentangan laut ini mencakup area seluas 900.000 kilometer persegi (hampir 350.000 mil persegi) dan menyediakan mata pencaharian dan makanan bagi lebih dari 40 juta orang.

Banyak spesies laut dan habitat di bentangan itu yang terancam oleh penangkapan yang berlebihan, polusi, pembangunan kawasan pesisir dan sedimentasi. Selain itu, mata pencaharian masyarakat setempat terancam seriring menurunnya stok ikan dan meningkatnya pengkapan ikan komersil, yang menyisakan hanya sedikit ikan bagi konsumsi lokal. 

Naiknya permukaan laut meningkatkan pula suhu laut. Tingkat keasaman air laut dan memutihnya karang karena perubahan iklim berdanpak tidak hanya pada kerentanan spesies dan ekosistem, tapi juga pada masyarakat yang bergantung pada perikanan dan wisata sebagai mata pencaharian mereka.


Menyelamatkan bentang laut

Kegiatan CI di wilayah bentangan laut mencakup pengembangan dasar ilmiah bagi pengelolaan berbasis ekosistem; memfasilitas pembentukan dan jaringan KPL  di koridor konservasi keanekaragaman hayati laut;  mengembangkan stakeholder  dan kapasitas penegakan hukum melalui pelatihan bertarget dan penyediaan dukungan logistik; dan membangun kemitraan yang efektif dengan lembaga pemerintah nasional, LSM lainnya, pemerintah lokal dan provinsi, masyarakat dan sektor swasta.

Melalui pekerjaan ini, CI bertujuan melestarikan spesies dan habitat penting sambil mempertahankan kebutuhan masyarakat akan produk dan jasa kelautan. Dengan mengembangkan rencana manajemen yang baik dan perikanan yang lebih berkelanjutan, kebutuhan makanan setempat akan terjamin dalam jangka panjang. Pengembangan pariwisata tidak akan membahayakan alam tempatnya bergantung. Kegiatan rekreasi harus dikembangkan sedemikian rupa untuk mempromosikan budaya lokal dan membawa manfaat maksimal kepada masyarakat setempat.

Tim bentang anlaut Sulu-Sulawesi sudah mencapai hasil yang penting. Berbekal informasi ekologi dan sosial-ekonomi, CI dan mitra-mitra memperluas cakupan wilayah perlidungan laut (MPA) Tubbataha Reef Natural World Heritage Site dari 33.960 hingga 99.066 hektar (sekitar 84.000 sampai 245.000 hektar); mendukung pembentukan 15 Daerah Perlindungan Laut (DPL) baru dan merancang jaringan ekologis fungsional DPL berdasarkan keterisambungan. Kami juga berusaha meningkatkan pengelolaan dan penegakan hukum di wilayah-wilayah tersebut melalui rencana penyusunan pengelolaan, dibantu oleh ratusan relawan penegak hukum dan penjaga taman nasional, dan dengan mendorong peningkatan alokasi dana pemerintah setempat dan nasional untuk konservasi laut.

Untuk mengatasi dampak perubahan iklim, lebih dari 100 ilmuwan, politisi dan anggota masyarakat setempat di bentangan laut Koridor Kepulauan Verde berkumpul untuk mengawasi kerentanan masyarakat — dan keanekaragaman hayati laut tempat mereka bergantung — terhadap efek perubahan iklim sehingga rencana adaptasi dapat dikembangkan.

Setelah mendengar tentang dampak perubahan iklim di daerah tersebut, pemerintah provinsi mulai melakukan peninjauan rencana pengelolaan persisir dan adaptasinya hingga menjadi lebih “cerdas iklim.” Adaptasi yang dianjurkan termasuk mendirikan pelabuhan panggung yang tidak menghambat pergerakan alam, melindungi padang dasar laut, hutan bakau dan terumbu karang, juga mempromisikan mata pencaharian alternatif seperti budidaya rumput laut dan kegiatan outreach untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan masalah-masalah tersebut. DPL ‘Cerdas Iklim’ Filipina yang pertama meliputi 14.000 hektar (hampir 35.000 are) termasuk 1.000 hektar zona larangan, yang baru-baru ini diresmikan di Pulau Lubang.

Upaya-upaya tersebut hingga saat ini telah terbukti berhasil, dan pemerintah merespon hal tersebut. Menanggapi hasil kerja CI, Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo memerintahkan para eksekutif untuk membuat pedoman menentukan wilayah kenakeragaman hayati dan habitat kritis di bentangan laut sulu-sulawesi, terutama di Kepulauan Verde. Presiden Arroyo juga menunjuk direktur CI Filipina sebagi anggota Komisi Dewan Nasional Perubahan Iklim untuk memberikan masukan pada strategi Kerangka Kerja Strategi Nasional mengenai Perubahan Iklim.