Maluku dan Nusa Tenggara
© CI/Photo by Zumbrunn
Ekspedisi Halmahera

Halmahera adalah nama sebuah pulau di kawasan Indonesian. Ekspedisi Halmahera  berupaya mengeksplorasi seluruh wilayah Laut Halmahera dan pulau-pulau di sekitarnya, termasuk Kepulauan Ternate dan Tidore, Kepulauan Goraici dan Bacan, Selat Patientie, di selatan Kepulauan Damar dan Widi, Teluk Weda, Teluk Buli, Teluk Kao, Teluk Kepulauan Galela/Tobelo, Kepulauan Morotai, dan Kepulauan Loloda Utara/Loloda Selatan.
 
Halmahera terletak antara Pulau Papua dan Sulawesi, kawasan ini  membentang seluas 24.500 km2. Halmahera terletak di Segitiga Karang, yang merupakan kawasan dengan kehidupan laut terkaya di planet ini.

Berbagai penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang mencakup antara bagian Utara dan Selatan Sulawesi hingga bagian paling barat Papua — termasuk kepulauan Raja Ampat  kemudian  Halmahera — dimana kawasan — kawasan ini menjadi tempat berbagai  keanekaragaman hayati laut tertinggi, terutama dalam hal spesies ikan karang dan terumbu karang.

Bagaimanapun juga, tidak banyak data dan informasi, yang dapat diperoleh tentang keanakeragaman hayati laut Halmahera. Data ikan karang  yang tersedia saat ini hanyalah yang dikumpulkan oleh Dr. Gerry Allen melaui penelitian singkat pada tahun 2005, yang dilaksanakan di 28 lokasi di bagian barat-daya Halmahera. Hanya selama 37 jam menyelam, Dr. Gerry Allen mencatat ada  803 spesies ikan karang, sebagai tanda yang  luar biasa tentang kekayaan laut kawasan ini.

Sebagi perbandingan, Dr Allen mencatat 828 ikan karang di Raja Ampat dalam waktu 60 jam menyelam pada tahun 2001; perbandingan ini menunjukkan bahwa Halmahera memiliki kehidupan laut yang sebanding dengan Raja Ampat, bahkan lebih. Hal ini memungkinkan bahwa spesies ikan karang baru dan karang ditemukan di perairan Halmahera. Wilayah dengan keanekaragaman hayati laut yang menakjubkan  dan sumber daya laut yang kaya membuat keduanya sebagai prioritas konservasi laut, sementara pada saat yang bersamaan target pengembangan sektor ekonomi berkisar dari perikanan hingga wisata bahari sampai minyak dan gas bumi. Pemerintah daerah di Halmahera (Provinsi Maluku Utara) saat ini harus berhadapan pad keputusan yang sangat penting tentang bagaimana menyeimbangkan antara pembangunan ekonomi berkelanjutan sumber daya laut yang kaya dan konservasi yang signifikan keanekaragaman laut global.

Kesejahteraan masa depan penduduk yang tinggal di wilayah Halmahera sangat tergantung pada tanggungjawab, kebijakan infromasi yang memungkinkan pembangunan berkelanjutan sambil melindunungi dari kerusakan lingkungan yang telah terjadi di wilayah Indonesia lainnya, termasuk penangkapan ikan yang berlebihan dan pembalakan liar hutan yang melindungi daerah aliran sungau (DAS) yang sifatnya  vital. Untuk lebih efektif, kebijakan ini harus dikoordinasikan antara pemerintah kabupaten, provinsi dan nasional seiring dengan banyaknya keterkaitan  antara persoalan ekologis dan proses ekonomi dimana ekologi selalu bersifat  melintas batas-batas administrative dari masing-masing kabupaten.

Dengan situasi seperti ini, pemerintah setempat, pemerintah pusat dan pemerintah provinsi dan para stakeholder memerlukan dukungan yang kuat dalam pengembangan menajemen sumberdaya kelautan dan pesisir yang berkelanjutan, guna melindungi keanekeragamanan hayati serta membela  suatu upaya  yang menguntungkan bagi masyarakat setempat.

Untuk mencapai tujuan ini, Conservation International (CI) Indonesia, The Nature Conservancy, WWF-Indonesia dan mitra lainnya melakukan penilaian pendahuluan prospek konservasi laut dan pariwisata di daerah Halmahera. Penelitiann ini juga berupaya memetakan dan memeriksa konektivitas ekologi antara Halmahera dan bentang laut Kepala Burung di sebelah timur dan bentang laut Sulu-Sulawesi di sebelah barat. Hasil penilaian ini akan digunakan untuk serangkaian rekomendasi mengenai pengelolaan dan konservasi sumberdaya laut Halmahera bagi pembuat kebijakan di daerah dan dalam skala nasional.