Kalimantan
Kota Bangus, East Kalimantan, Indonesia. © CI/Photo by Russ Mittermeier 
 
Kota Bangus,  Kalimantan Timur, Indonesia.
© CI/Photo by Russ Mittermeier
 
 

Hampir seluruh dari sekitar 180.000 km wilayah dilindungi di dataran Sunda (Sundaland) , mewakili 12 persen dari luas daerah hotspot. Namun, hanya 77.000 kilometer persegi dari wilayah ini (5,2 persen dari hotspot) berada di kawasan lindung yang masuk  dalam  Kategori IUCN I hingga IV.

Selain itu, tujuan dari kategorisasi hotspot merupakan kecenderungan yang paling terancam, sedikit dimanfaatkan, dan habitat paling berharga, seperti hutan di atas pegunungan. Selain itu strategi hotspot juga memberikan petunjuk pada banyak ragam hutan dataran rendah yang penting  dan kurang terwakili dalam sistem kawasan lindung dan rentan terhadap pembangunan pertanian dan industri kayu.

Ada berbagai tingkat upaya perlindungan dan manajemen yang berlangsung di taman nasional dan cagar alam. Beberapa diantaranya seperti Kinabalu di Sabah, Gunung Gede Pangrango di Jawa, dan Hala-Bala di Thailand yang terlindung dengan baik. Sedangkan yang  lainnya seperti Taman Nasional Kutai, di Kalimantan Timur, telah sepenuhnya gundul akibat pembalakan, kekeringan dan kebakaran hutan. Untuk menjamin konservasi jangka panjang, taman nasional dan cagar alam membutuhkan implementasi dan status perlindungan yang etipektif, ditambah pemahaman dan kebanggaan diantara masyarakat wilayah tersebut. Pada saat yang sama, karena kepadatan penduduk yang tinggi dan tingkat pertumbuhan dalam hotspot, konservasi jangka panjang dan berkelanjutan maka akan diperlukan fokus pada pembangunan sosial dan ekonomi, pendidikan, dan kesadaran publik.

DALAMI : Program konservasi kami di Gunung Gede Pangrango 

Di Kalimantan, kawasan konservasi lintas batas, atau taman persahabatan antar negara (peace park), sedang dirintis sebagai  sebuah bentuk kerjasama internasional dan perlindungan ekosistem. Sebagai contoh Suaka Margasatwa Lanjak-Entimau dan Taman Nasional Batang Ai di Sarawak berdampingan dengan Gunung dan Cagar Alam Bentuang Karimun di Kalimantan. Kawasan bersama- ini  mencakup  wilayah total hampir 8.000 km hutan lindung. Wilayah penting lainnya adalah cagar alam hutan Ulu Muda, Suaka Margasatwa Hala-Bala, Taman Nasional Belum, dan Cagar Alam Hutan Temengor antara Malaysia dan Thailand.

Pemerintah Indonesia sekarang sedang menerapkan kebijakan pro- konservasi, antara lain dengan mempromosikan pengurangan jumlah hak pengusahaan hutan (konsesi) penebangan kayu yang ada menjadi setengahnya.

Beberapa HPH yang dibatalkan atau ditinggalkan kemudian dikonversi menjadi kawasan lindung. Kawasan Sebangau di Kalimantan Tengah adalah salah satu contoh. Selain itu, HPH yang lain akan ditunjuk untuk program penebangan hutan secara  lestari.

Kebijakan baru ini juga memungkinkan penciptaan kawasan lindung oleh pemerintah daerah, bukan hanya pemerintah pusat. Model ini, yang mengutamakan kepemilikan dan pelayanan pemerintah setempat, telah digunakan untuk menciptakan kawasan lindung.