Kamera Perangkap
Perangkap kamera dilakukan untuk mengetahui eksistensi keanekaragaman satwa.

Kamera Perangkap (camera trap) merupakan salah satu metode yang digunakan untuk meneliti keberadaan satwa dan kehidupannya. Dengan upaya ini, Conservation International dapat memetakan populasi keanekaragaman hayati serta peran penting mereka dalam kesatuan ekosistem yang padu untuk menjaga keseimbangan kehidupan.

Pemasangan  kamera perangkap dilakukan untuk memotret secara otomatis satwa liar di dalam hutan baik di Jawa maupun di Sumatera.

Pemasangan kamera perangkap yang dilakukan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat para tahun 2003, membuktikan bahwa kawasan tersebut mempunyai keanekaragaman satwa yang cukup banyak mewakili satwa yang ada di Jawa.  Pemasangan camera trap ini menghasilkan foto 14 jenis mamalia  yang terdiri dari lima ordo dan delapan suku, antara lain babi (Sus scrofa), pelanduk (Tragulus javanicus), binturong mutu (Arctistic binturong), musang luwak (Paradoxurus hermaphroditus), lingsang (Prionodon lingsang), garangan Jawa (Hervestes javanicus), kucing tuwuk (Prionailurus bengalensis), macan tutul (Panthera pardus), trenggiling peusing (Manis javanica), tikus belukar (Rattus tiomanicus), bajing tanah bergaris tiga (Lariscus insignis), tupai gunung (Tupaia montana),  tupai kekes (Tupaia javanica) dan  anjing (Canis familiaris).

PELAJARI: Menjebak Satwa TN Gunung Gede Pangrango

Selain dari kelas mamalia, beberapa jenis burung ternyata juga terpantau oleh pemasangan kamera penjebak ini. Selama pemasangan, telah terekam pula jenis-jenis burung seperti: delimukan zambrud (Chalcophaps indica), puyuh gonggong jawa (Arborophila javanica), dan paok pancawarna (Pitta guajana).***