Jawa dan Bali
Jembatan Kanopi di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Jembatan kanopi, di Taman Nasional Gn Gede Pangrango
©CI, Fachruddin Mangunjaya
Koridor Gedepahala

Sejak tahun 2003, CI Indonesia telah memulai berbagai upaya rehabilitasi dan  restorasi di daerah Gunung Gede Pangrango. Rencana rehabilitasi eksosistem yang disebut dengan "Green Wall" telah berhasil bermitra dengan masyarakat setempat untuk menanam kembali pohon-pohon asli, serta pohon-pohon yang bernilai ekonomi dalam rangka m manfaat dari sumber daya alam.

CI telah meningkatkan program restorasi dan rehabilitasi di Taman Nasional Gunung Gede, dan memasukkan  wilayah Gunung Halimun dan Gunung Salak (Gedepahala), dalam  rencana strategis Koridor Gedepahala. Program ini bertujuan untuk merehabilitasi hampir 10 ribu hektar  lahan kritis di  kedua taman nasional ini. Program ini menekankan kerjasama dalam kemitraan dengan masyarakat sekitar. Program ini juga mencakup komitmen adopsi pohon untuk menanam pohon asli dan memeliharanya selama tiga tahun.

Owa jawa merupakan jenis kera yang setia dan membesarkan keluarga mereka di hutan alam. Hampir setiap pagi, kera ini bernyanyi merdu sebagai alat mereka untuk berkomunikasi satu sama lain, termasuk memberikan tanda pada keluarga lainnya, dan hal ini telah berlangsung selama ribuan tahun lamanya.

Pusat Pendidikan Konservasi Alam, Bodogol (PPKAB didirikan pada tahun 1999, merupakan salah satu elemen penting dalam kegiatan konservasi yang menunjang perluasan pengetahuan pada masyarakat terutama mereka yang berumur remaja dan anak-anak. Kawasa ini didirikan atas kerjasama Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Yayasan Mitra Alami, Universitas Indonesia dan Conservation International. Setiap akhir minggu, kawasan ini kerap dikunjungi oleh mereka yang bukan saja ingin belajar, tetap  juga ingin mendekatkan diri pada alam.