Intro Photo Large

Remove this module

Section Info

EditPhoto Title:Iklim
EditPhoto Description:Tanpa kita sadari, perubahan iklim membentuk dan mempengaruhi kehidupan kita.
EditImage Url:/global/indonesia/PublishingImages/ci_48867285_Large.jpg
EditImage Description:
EditPhoto Credit:© Benjamin Drummond, Malaysia
EditPhoto RenditionID Small:5[Optional]
EditPhoto RenditionID Webkit:6[Optional]
EditPhoto RenditionID Medium:7[Optional]
EditPhoto RenditionID Portrait:8[Optional]
EditPhoto RenditionID Large:9[Optional]

​Bagaimana kita akan merespon atas perubahan iklim, akan menentukan masa depan kehidupan kita.


​​Bagaimana bila perubahan dampak perubahan iklim banyak mempengaruhi kesediaan sumber daya dan alam tempat kita hidup? Nasib satu-satunya planet tempa​t kita hidup akan terancam.


Oleh karena itu, kita harus menghadapi tantangan ini bersama-sama.


Images Thumbnail List

Remove this module

Module Configuration

EditSection HeadingMengapa iklim kita penting?
EditAnchor tag for sticky nav:[Optional]

Sections

Photo and Text List

Row

Edit Title:Stabilitas Iklim
Edit Text: Beberapa abad terakhir, aktivitas manusia telah melepaskan efek gas rumah kaca pada tingkat yang mengacaukan stabilitas iklim di bumi. Konsentrasi level CO2 mencapai 400 ppm pada tahun 2013.
Edit Link for Header and Photo:[Optional]
Edit Photo URL: /global/indonesia/PublishingImages/CI_13233348.JPG
Edit Photo Alt Text:
EditPhoto Credit:
Edit Photo RenditionID Small:6[Optional]
Edit Photo RenditionID Medium:7[Optional]
Move UpMove Down

Row

Edit Title:Perlindungan dari Badai
Edit Text: Dari kota besar ke masyarakat kecil, 50% populasi dunia hidup di pesisir dan saat ini mereka dalam kondisi yang tidak aman karena badai dapat terjadi lebih sering akibat perubahan iklim dan bertambah tingginya permukaan air laut.
Edit Link for Header and Photo:[Optional]
Edit Photo URL: /global/indonesia/PublishingImages/ci_40802177_Medium.jpg
Edit Photo Alt Text:
EditPhoto Credit:
Edit Photo RenditionID Small:6[Optional]
Edit Photo RenditionID Medium:7[Optional]
Move UpMove Down

Row

Edit Title:Air untuk Minum
Edit Text: Perubahan iklim menyebabkan beberapa daerah menjadi sangat kering, dan bahkan mengarah pada kekeringan berkepanjangan. Ada yang memperkirakan bahwa iklim berdampak pada penurunan ketersediaan air hingga 50% di banyak wilayah, dan menimbulkan kerugian serta dapat mencetuskan potensi konflik atas air di masa depan. Sementara pada daerah lain yang terlalu basah, air dapat menyebabkan banjir yang besar.
Edit Link for Header and Photo:[Optional]
Edit Photo URL: /global/indonesia/PublishingImages/ci_64671114.jpg
Edit Photo Alt Text:
EditPhoto Credit:
Edit Photo RenditionID Small:6[Optional]
Edit Photo RenditionID Medium:7[Optional]
Move UpMove Down

Row

Edit Title:Makanan untuk Hidup
Edit Text: Pada tahun 2050 diperkirakan permintaan global terhadap makanan akan berlipat ganda. Namun penelitian terkini menunjukkan bahwa perubahan iklim mengganggu musim panen di beberapa belahan dunia, dan diperkirakan situasi akan lebih buruk ke depan. Oleh karena itu, kita perlu menggunakan air dan lahan dengan efisien untuk memastikan ketersediaan pangan di masa depan.
Edit Link for Header and Photo:[Optional]
Edit Photo URL: /global/indonesia/PublishingImages/(c)%20Foto%20%20Eko%20Wahono.jpg
Edit Photo Alt Text:
EditPhoto Credit:© Eko Wahono
Edit Photo RenditionID Small:6[Optional]
Edit Photo RenditionID Medium:7[Optional]
Move UpMove Down
Add row
​​

Circles 4 Across

Remove this module

Section Info

EditSection Title:Apa yang menjadi masalah?
EditSection Description:
EditSection ID (Anchor Tag): [Optional]

Circles Rows

Row

Move UpMove Down

Circle

EditCircle color:fact--color-677782    
EditCircle icon:icon-smokestack
EditResult value:
EditResult field:Penggunaan energi berlebih
EditText:Ketergantungan terhadap bahan bakar fosil

Pembakaran bahan bakar fosil merupakan sumber pertama penyebab emisi gas rumah kaca. Bila hal ini terus berlanjut, maka akan terjadi peningkatan suhu yang dratis. Energi yang beragam, bersih, dan pemakaian energi secara efisien menjadi langkah yang penting dalam mengurangi emisi.

Circle

EditCircle color:fact--blue    
EditCircle icon:icon-multiple_islands
EditResult value:50%
EditResult field:penduduk dunia berada di kawasan pesisir
EditText:Perusakan lahan basah dan hutan pesisir

Sekitar 50% populasi dunia hidup dekat dengan pesisir. Akan tetapi, telah banyak terjadi perusakan lingkungan dan penggunaan lahan yang menurunkan dan merusak lahan basah serta hutan pesisir. Padahal keduanya merupakan penopang alami yang membantu melindungi area pesisir terhadap serangan badai, dan mencegah naiknya permukaan laut dan erosi.

Row

Delete RowMove UpMove Down

Circle

EditCircle color:fact--brown    
EditCircle icon:icon-forest
EditResult value:11%
EditResult field:sumber emisi disebabkan manusia
EditText:Deforestasi dan perubahan penggunaan lahan

Karbon dalam jumlah besar tersimpan di hutan tropis. Saat kita menghancurkan area ini untuk pembuatan peternakan atau perkebunan, karbon akan terlepas ke atmosfer dan mempercepat perubahan iklim. Penelitian menunjukkan deforestasi menyumbang 11% dari seluruh emisi gas rumah kaca yang disebabkan oleh manusia.

Circle

EditCircle color:fact--orange    
EditCircle icon:icon-money
EditResult value:
EditResult field:Pendanaan < 0,1% GDP Global
EditText:Pendanaan yang tidak memadai

Saat ini, kontribusi global untuk pendanaan iklim yang bertujuan melakukan adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim, masih jauh dari yang dibutuhkan. Padahal, diperkirakan biaya yang diperlukan hanya akan mengambil sekitar 70 miliar USD per tahun atau kurang dari 0,1% Gross Domestic Product (GDP) global.

Add row
​​

​Solusi CI

Ilmuwan memperkirakan pada tahun 2050, kita harus mengurangi emisi di seluruh dunia untuk menghindari lebih banyak dampak dari perubahan iklim. Ini merupakan tantangan yang mendesak dan membutuhkan respon yang segera dari seluruh pihak. Secara global, perubahan iklim telah menjadi perhatian dunia, dan saat ini banyak masyarakat yang sedang berjuang untuk mengatasi dampak perubahan iklim.​

CI telah menjadi pelopor dalam membantu masyarakat beradaptasi dengan perubahan iklim. Misalnya, kami mengembangkan cara baru dalam budidaya komoditas yang mendukung lingkungan yang lebih sehat, meminimalkan dampak perubahan iklim, tetapi juga meningkatkan hasil produksi yang mensejahterakan petani. Di Indonesia, kami melaksanakan beberapa program inovatif, misalnya model pembangunan rendah emisi pada skala bentang alam dan sistem produksi pertanian berkelanjutan di Sumatera Utara,  serta inisiatif blue carbon di Papua Barat.